Thursday, December 30, 2010

Mata Merah di Final AFF 2010

Kedua mata saya merah. Semakin perih dan memerah pada malam 26 Desember 2010. Saat itu pertandingan final sepakbola Leg Pertama antara timnas Garuda Nusantara dan Harimau Malaya di stadium Bukit Jalil Malaysia. Seolah tidak peduli dengan merah dan perihnya mata, saya terus saja menonton pertandingan seru sepakbola ini melalui televisi. Dengan satu harapan agar saya bisa melihat Garuda Nusantara menampilkan permainan terbaiknya. Dan akhirnya mata ini telah benar-benar memerah, semerah kostum para supporter Tim Garuda yang menjejali stadion sepakbola.

Thursday, December 23, 2010

Pengalaman Ajarkan Banyak Hal


Seorang pemimpin militer dan politik Romawi yang masyur, Julius Caesar (100 - 44 SM) mengatakan "Experience is the teacher of all things". Pengalaman mengajarkan tentang banyak sekali hal. Pengalaman termasuk pengetahuan, ketrampilan atau pengamatan terhadap sesuatu hal atau kejadian yang diperoleh dengan melibatkan diri atau berhubungan dengan sesuatu hal atau kejadian tersebut. Mendapatkan berpengalaman perlu "terjun langsung" ke dalam kejadian yang senyatanya.

Friday, November 26, 2010

Utak-Atik Mathuk & Analisis Multivariat

Bukan hanya dalam arti sempit mencocok-cocokan angka dengan kejadian. Utak-atik mathuk secara luas mengamati tanda, gejala, fenomena, pengalaman, keadaan dan simbol, kemudian mereka-reka dan menyimpulkannya. Setiap unsur pengamatan, hasil reka-reka dan simpulan ditafsirkan dan dikaitkan dengan situasi yang telah terjadi, sedang terjadi atau bahkan mungkin akan terjadi. Dalam rangka utak-atik mathuk digunakan baik kemampuan intelektual maupun kepekaan intuitif, dengan mengerahkan seluruh panca indra, termasuk indera keenam manusia. Otak-atik mathuk lebih kepada cara memahami masalah dengan menggunakan berbagai unsur pertimbangan.

Thursday, November 18, 2010

Obama, Sang Penangkap Capung

Terasa akrab saat mendengar pidato kuliah umum Barack Hussein Obama di Universitas Indonesia 10 November 2010. Terutama saat dia bercerita masa kecilnya di Indonesia. Rasanya seperti mendengar obrolan dan guyonan seorang sahabat. Dia berbicara dengan bahasa pendengarnya. Dia benar-benar seseorang yang "pulang kampung". Dia mulai bercerita masa kecilnya dengan kenangan pohon mangga di depan rumahnya di Menteng Dalam Jakarta. Seperti layaknya anak-anak lainnya, dia membeli sate dan bakso dari pedagang yang biasa lewat di depan rumahnya. Bahkan dia masih sangat mengingat suara penjual bakso. Dia menirukannya "Bakso…" dan terdengar lumayan mirip.

Thursday, November 11, 2010

Terkejut di Gundukan Kejut

Baru saja berkonsentrasi melintasi rel kereta api, mak jenggirat saya kaget dan secara reflek menginjak rem sambil membanting setir ke kiri. Ujug-ujug kendaraan motor dari arah berlawanan mak sliut mengambil jalur di depan kendaraan saya, sebelum akhirnya dia kembali ke jalurnya. Ternyata dia berusaha menghindari barisan gundukan kejut yang melintang di jalan sebelum perlintasan rel kereta api. Syukurlah kendaraan kami tidak saling bersenggolan yang akibatnya mungkin tidak hanya kerusakan kendaraan tapi juga harus berobat ke rumah sakit karena cedera. Ini nyaris celaka! (Foto: Perlintasan kereta api, selatan perempatan Sekar Pace, Solo).

Sunday, October 24, 2010

Simpang Lima atau Enam?

Simpang Lima menjadi salah satu andalan tujuan wisata di Semarang Jawa Tengah. Ini bisa terlihat di poster tujuan wisata Semarang yang bisa dijumpai di tempat-tempat umum. Disebut Simpang Lima karena merupakan daerah simpang pertemuan lima jalan besar. Dari kedekatan arahnya, sebelah barat adalah jalan Pandanaran, dari arah barat-laut jalan Gajah Mada, dari arah timur-laut adalah jalan KH Ahmad Dahlan, dari arah timur jalan Ahmad Yani, dan dari arah selatan adalah jalan Pahlawan. Kelima jalan ini bertemu di jalan lingkar luar alon-alon, yang juga disebut jalan Simpang Lima.

Thursday, September 30, 2010

Becekan & Resepsi Standing Party

Tradisi mbecek dilakoni masyarakat kampung sejak dulu secara turun-temurun. Suatu kegiatan dengan mendatangi dan memberikan bantuan berupa bahan makanan; beras, gula, dan sejenisnya kepada keluarga, tetangga atau kenalan yang memiliki hajat pernikahan atau khitanan. Bantuan bahan makanan biasanya diberikan oleh kaum wanita, sedang para laki-lakinya berupa uang. Pada dasarnya tradisi mbecek bertujuan sama seperti kegiatan gotong-royong lainnya seperti sayan memperbaiki rumah atau kerja bakti membuat jembatan, yaitu saling membantu secara moril maupun materiil. Tradisi ini masih ada kentara terutama di komunitas desa.

Friday, September 3, 2010

Manfaat Kurma Mendunia

Puasa Ramadan selalu dilengkapkan dengan kurma. Memang keduanya sulit dipisahkan. Terasa hangat dan mantap saat berbuka puasa dengan kurma. Rasa lapar setelah seharian penuh berpuasa menjadi terpuaskan dengan manisnya kurma. Badan yang lemas menjadi bugar kembali, karena glukosa yang terdapat dalam buah kurma mudah dimanfaatkan sebagai sumber energi tubuh. Tentunya tidak hanya glukosanya, buah kurma banyak sekali mengandung vitamin, mineral dan nutrisi lain yang sangat berguna bagi tubuh manusia.

Saturday, August 21, 2010

Salam Merdeka Dari Kampung

Waktu itu, tiga tampah berwarna dasar putih ditulisi angka warna merah dan hitam di tengahnya masing-masing 8-17-45 dan dipasang di tiang gapura kiri. Tiga tampah lainnya ditulisi 8-17-Angka Tahun dipasang di tiang gapura kanan. Gapura didirikan dengan dua tiang bambu di masing-masing kakinya. Juga dua potong bambu untuk palang atas gapura. Semua potong bambu dihaluskan ruasnya dan dicat putih. Di antara dua palang atas dipasang lembar anyaman bambu berulisan "Dirgahayu HUT Kemerdekaan RI". Gapura dihias rumbai-rumbai janur kuning, juga gambar atau hiasan lain yang mampu dibuat.

Thursday, August 12, 2010

Kekasih Yang Tak Dianggap: HUT RI

"Hanya kita sendiri yang bisa lebih mencintai diri kita sendiri daripada orang lain" diucapkan di atas panggung oleh Pinkan Mambo, seorang artis penyanyi. Ucapan ini diantara prolog yang dia sampaikan sebelum menyanyikan lagu hitnya "Kekasih Yang Tak Dianggap". Saya memuji kemampuan dia berinteraksi dengan penonton di depan dan sekitar panggung yang berdiri kokoh di pinggir timur lapangan sepakbola berumput sintetis. Interaksi tidak hanya mengandalkan gerakan tubuh, tetapi juga kata dan terlebih semangat menghiburnya. Bahkan sampai rela berbasah-basah terkena rintik hujan saat terus berusaha di atas open stage bundar di depan panggung utama HUT RI.

Tuesday, August 10, 2010

Java Coffee "Nasgithel"

Secara leksikal "Java Coffee" itu artinya ya kopi yang dihasilkan dari pulau Jawa. Menurut Wikipedia, kata "Java" dalam bahasa populer di negara Amerika merujuk pada kopi secara umum. Memang sejarahnya kopi dari Jawa sudah mulai menyebar dan terkenal di pasar dunia sejak kolonial Hindia Belanda membudidayakannya secara besar-besaran di pulau Jawa. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, "Kopi Jawa" selain merujuk ke asal kopi, juga berarti minuman kopi yang berwarna hitam pekat, kental, panas dan terasa cukup manis. Ada akronim yang umum untuk menyebut kopi jenis ini di Jawa, nasgithel (panas, legi, kenthel), panas, manis dan kenthal. (Foto: Kopi Arabica, sumber: www.plantamor.com)

Saturday, July 17, 2010

"Embah" Itu Telah Tiada

Kotak kayu mirip peti mati besar berisi harimau berukuran pas hingga hewan ini tidak bisa berbalik arah di dalamnya diletakkan di alun-alun. Kotak dikelilingi oleh barisan laki-laki bersenjata tombak. Cukup luas kelilingan orang itu kira-kira berdiameter 100 meter. Kemudian muncul orang berpakaian lengkap berjalan menuju kotak diikuti dua orang di belakangnya; satu membawa sepanggul jerami dan lainnya memegang obor. Jerami diletakkan tepat di depan kotak dimana arah kepala harimau. Orang yang berpakaian lengkap membuka pintu geser belakang kotak dan perlahan menggantikan dengan tutup kain gelap. Jerami dibakar pembawa obor. Mereka bertiga lalu keluar arena.

Sunday, July 4, 2010

Odong-Odong Zone

Tentu ini tak sebanding dengan Timezone dan Amazone, arena bermain anak yang biasanya ada di pusat hiburan dan perbelanjaan mewah. Area bermain di ruang sejuk ber-AC. Seisi ruangannya dihias dekorasi dan lampu warna-warni menarik. Penjaga berpakaian seragam rapi siap melayani setiap pengunjung. Timezone dan Amazone selalu didatangi anak-anak keluarga berduit. Sekali datang bisa menghabiskan uang puluhan atau bahkan ratusan ribu. Mereka bermain dengan membeli koin atau kartu gesek permainan di meja counter kaca yang berisi berbagai souvenir menarik bagi pengunjung. Anak, dan juga remaja, terlihat menikmati riang setiap jenis permainan modernnya.

Ini hanya tempat bermain sederhana "berpindah" yang saya temui di pinggir jalan kota kecil. Biar agak menarik saya menyebutkan "Odong-Odong Zone". Hanya terdiri beberapa jenis mainan kreasi mereka sendiri. Tentu saja mainan tak sebagus, senyaman dan segemerlap aslinya yang ingin ditiru. Odong-odong Zone dibuat untuk anak-anak pemukim sekitar yang ingin sedikit menikmati rasa dan pengalaman bermain yang jauh dari tempat aslinya. Tanpa harus mengeluarkan tenaga dan biaya besar di taman atau pusat hiburan. Sambil lalu dan mampir karena tempatnya hanya di pinggir jalan yang agak luas. Apapun, tentunya senang melihat anak riang menikmati permainan. (Foto: Becak Odong-odong, Utara Alon-Alon Blitar)

Paling tidak ada tiga jenis sarana mainan yang saya lihat di Odong-odong Zone waktu itu. Satu jenis kreasi mainan Marry Go Around menjadi mainan sejenis komedi putar yang berisi patung-patung kayu kuda yang bisa ditunggangi berjajar mengelilingi lingkaran putar. Satu lagi mirip Spinner berisi mainan miniatur mobil, lokomotif, truk yang bisa dinaiki menggantung ditopang jari-jari besi dari pusat putarannya. Dan becak odong-odong yang biasa saya temui berkeliling kampung dan berhenti jika ada anak ingin bermain dengannya. Anak-anak menikmati permainan ini dengan menaikinya dan kemudian berputar. Semuanya digerakkan dengan tenaga manusia. Permainan dicat warna-warni menarik dan beroda roda sehingga bisa ditarik dan dipindahkan dari lokasinya.

Becak odong-odong yang menarik anak saya untuk bermain. Sebuah becak yang dimodifikasi di bagian penumpangnya terdapat empat mainan anak. Bisa berupa mobil-mobilan, sepeda motor, bentuk bebek, atau kuda ukuran kecil yang bisa dinaiki anak. Kemudian tukang odong-odong mengayuh pedal becaknya, bukan agar becaknya jalan, tetapi agar empat mainannya bergerak naik-turun. Saat dikayuh lagu berbunyi dan saat lagu selesai maka selesai juga hitungan waktu naik yang harus dibayar. Saya hanya menunggu berdiri di sebelahnya. Ketika anak sudah terlihat puas bermain saya menanyakan kepada tukang odong-odong berapa ongkosnya. Seribu rupiah selama satu lagu.

Di tempat ini mereka datang pagi dan pergi menjelang sore hari. Malamnya mereka beristirahat dan menunggu hari esok untuk kembali menggelar sarana hiburan sederhana buat anak sekaligus mencari rejeki. Benar, harus beristirahat karena mereka seharian telah mengeluarkan tenaga untuk menggerakan alat permainan yang mereka tawarkan. Mereka harus menggerakannya dengan tenaga tangan atau kakinya agar mainan bergerak dan berputar. Semakin banyak anak yang menaiki mainannya semakin kuat tenaga yang harus dikeluarkan untuk menggerakkannya. Semakin banyak rejeki yang didapatkan tentunya. Dan semakin banyak anak kecil yang terhibur. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Sunday, June 13, 2010

Cembengan, Lebih Sekedar Tugu

Tugu Cembengan berada di tengah perempatan bertemunya empat jalur jalan; dari utara jalan Ki Hajar Dewantoro, dari timur jalan Ir. Sutami dan selatan jalan Kolonel Sutarto dan dari barat jalan Tentara Pelajar. Tugu ini dicat dengan warna putih. Aslinya tugu Cembengan dibangun jaman Sri Susuhunan Paku Buwono X, Raja Kraton Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893-1939. Tugu Cembengan adalah salah satu cagar budaya di Solo. Tugu yang ada kini adalah bangunan pengganti, namun tetap mempertahankan model bersusun aslinya. Model ini adalah khas tugu di tengah jalan perempatan yang dibangun jaman itu. (Foto: Tugu Cembengan, Solo).

Para bepergian dengan sarana transportasi darat antar kota propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur atau diantaranya cenderung melewati Tugu Cembengan. Demikian perempatan Tugu Cembengan kini cukup ramai lalu-lalang dan disinilah banyak terpasang media promisi, baliho, spanduk, poster dan sarana iklan lainnya. Tugu Cembengan berada di bagian timur kota Solo. Ini menjadi perempatan masuk ke pusat kota Solo dimana jalan utama keluar-masuk kota Solo melewati Tugu Cembengan. Jalan utama ini memiliki jalur lambat di kedua pinggirnya yang asri dipisahkan oleh jalur taman dan pohon hijau dengan jalan utamanya. Sedang jalur utamanya cukup luas memiliki dua jalur lalu-lintas dari dua arah.

Tugu ini dekat kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Tentu mahasiswanya akrab dengan Tugu Cembengan. Apalagi dekat Tugu Cembengan ada warung wedangan lesehan HIK sebagai tempat mangkalnya mahasiswa. Warung dengan jajanan lengkap dan nasi bungkus murah-meriah. Warung ramai dikunjungi sekaligus tempat refreshing mahasiswa mulai selepas maghrib sampai tengah malam. Konon kata "HIK" adalah singkatan Hidangan Istimewa Kampung. Juga suara khas penjualnya yang sesekali meneriakkan suara "HIK" melengking menarik pembeli. Dulunya wedangan HIK movable dipikul oleh penjualnya berkeliling dari kampung ke kampung.

Tugu Cembengan memiliki model bersusun tiga. Terdapat lubang di susun paling atas tembus ke empat sisinya ke arah jalan. Sangat memungkinan dulu lubangnya sebagai tempat lentera di malam hari. Jaman belum ada listrik adalah umum penduduk memasang lentera di pinggir jalan depan rumah dan perempatan di malam hari. Lentera untuk memberi penerangan dan peringatan kepada para pengguna jalan. Walau tentunya jaman dibangunnya tugu Cembengan jenis dan jumlah pengguna jalan tidak sebanyak sekarang. Demikian pengguna jalan menjadi berhati-hati saat memasuki daerah perempatan. Dengan adanya tugu, pengguna jalan memiliki hak jalan (right-of-way rule) tetap di jalurnya masing-masing, kemudian melewati atau memutari Tugu Cembengan.

Dengan tetap membawa nilai aslinya Tugu Cembengan telah berevolusi menjadi "roundabout" dengan taman di dalam bundaran dasar tugu. Taman memberikan nilai estetika dan tugunya sebagai monumen. Roundabout kini banyak dibangun di kota besar dunia sebagai traffic rules dimana lalulintas harus berjalan satu arah melingkar, mengurangi kecepatan dan memberi hak jalan kepada kendaraan yang lebih dulu masuk jalur bundaran. Tugu Cembengan memiliki nilai sejarah, ekonomi, sosial, budaya, dan traffic rules kini. Memang Tugu Cembengan lebih dari sedekar tugu. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Sunday, June 6, 2010

Nikmat Yang Terdustakan?

Bak untaian mutiara indah negeri ini. Ribuan pulau berjajar sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Gugusan pulau ini memiliki kekayaan dan distribusi flora dan fauna yang melimpah. Kondisi geologi dan geografinya berimplikasi pada aspek topografi, iklim, kesuburan tanah, dan sebaran tumbuhan dan hewan. Negeri dengan berbagai kandungan mineral bumi, kekayaan alam dan laut dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Kekayaan dan keindahan alam juga memberi nuansa warna-warni budaya insan penghuninya. Demikian indah dan kayanya hingga menarik migrasi manusia ke negeri ini mulai dari jaman prasejarah hingga kini. (Foto: Wisata Bendungan Selorejo, Jawa Timur).

Karena kesuburan alamnya konon migrasi awal manusia masuk wilayah negeri ini sekira 150.000 tahun lalu. Bangsa migran ini hidup dengan cara hunting and gathering berpindah-pindah di daerah nusatara yang kaya dengan berbagai hewan dan buah-buahan. Mereka kelak menjadi nenek moyang suku-suku wilayah timur negeri. Selanjutnya sekira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan manusia besar-besaran masuk ke kepulauan negeri ini yang kemudian menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah bagian barat. Mereka telah memiliki peradaban yang cukup baik dimana mereka bisa bertani dan bercocok taman di dataran subur negeri ini.

Sejak awal tarikh Masehi, para musafir dari negara seberang mulai datang ke negeri ini untuk melakukan hubungan dagang. Mereka dari India, Tiongkok, Persia dan wilayah Timur Tengah lainnya. Para musafir berdagang untuk berbagai rempah-rempah, lada, gaharu, cendana, pala, kemenyan, serta gambir. Juga berdagang emas, perak dan hasil kerajinan. Titik-titik perdagangan hasil bumi mulai tumbuh. Bahkan relief Candi Borobudur menunjukkan perahu bercadik khas anak negeri yang digunakan pedagang waktu itu. Hubungan dagang ini memberi pengaruh besar, terutama masuknya ajaran berbagai agama, dan sistem pemerintahan kerajaan.

Keahlian bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan membuat mereka melakukan ekspedisi, eksplorasi dan ekspansi untuk memperoleh hasil bumi. Dimulai tahun 1512 di Malaka, bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang tiba di negeri ini, dan berusaha menguasai sumber rempah-rempah yang berharga sampai ke Sunda Kelapa. Kekayaan negeri ini juga menarik bangsa lainnya hingga mulai tahun 1641 Malaka jatuh dibawah kekuasaan Belanda. Kemudian Belanda beralih ke Batavia sebagai pusat perdagangan hasil bumi dan administratif. Masa pendudukan Jepang mulai tahun 1942 dengan membawa berbagai hasil bumi keluar negeri, hingga berakhir saat Kemerdekaan Indonesia.

Seolah keindahan surgawi terpercik ke negeri ini. Hamparan lembah hijau. Pegunungan subur. Teduhnya pohon-pohon rindang. Mengalirnya air jernih sepanjang sungai. Beningnya air danau. Taman yang indah. Bunga yang mekar berwarna-warni. Buah-buahan yang melimpah dengan berbagai jenis dan nikmat rasanya. Biji-bijian yang menjadikan makanan dan wangi dedaunan sebagai pelengkapnya. Laut indah dan ikan melimpah. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rahmaan [55]: 13). Ini kalimat oratoris yang tidak memerlukan jawaban, tapi mengandung makna menegaskan. Semoga kita termasuk anak negeri yang tak pernah mendustakan nikmat-NYA. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Friday, May 28, 2010

Nasehat Sang Penemu

Semasa kecil Ali Javan selalu tertarik dengan ilmu pengetahuan dan bermain dengan banyak peralatan. Javan dilahirkan di Teheran Iran dari orangtua keturunan Azerbaijan. Setelah lulus dari SMA di Teheran, Javan pergi ke Amerika Serikat tahun 1949 belajar fisika dan matematika di Columbia University (New York). Tahun 1954 dia menerima gelar Ph.D dalam Ilmu Fisika dan terus melanjutkan kuliah lagi empat tahun sebagai mahasiswa Post Doctoral. Tahun 1958 Ali Javan bergabung dengan Bell Telephone Laboratories di Murray Hill, dan kemudian pindah ke MIT (Massachusetts Institute of Technology) di Cambridge. (Foto: Albert Einstein World Medal of Science).

Ali Javan adalah seorang profesor Fisika di Massachusett Instritute of Technology, dikenal sebagai pemimpin dunia bidang laser dan elektronika kuantum. Karena prestasinya dalam gas laser, Professor Javan menerima Stewat Ballentine Medal dari Institut Franklin 1964, Fany and John Hertz Foundation Medal 1966, Fredrick Ives Medal dari Optical Society 1975, dan tahun 1993 memperoleh Anugerah Albert Einstein untuk Ilmu Pengetahuan dari World Cultural Council. Dia menjadi peneliti di National Academy of Sciences and the American Academy of Arts and Sciences, peneliti di Third World Academy of Sciences, dan anggota kehormatan di Trieste Foundation for the Advancement of Science. Tahun 1966 dia menjadi peneliti Guggenheim, dan tahun 1979 dan 1995 sebagai peneliti Humbolt Foundation.

Laser gas adalah laser dimana arus listrik dilepaskan melalui gas untuk menghasilkan sinar. Javan menguji penemuan laser gas tahun 1960. Selanjutnya dia melakukan eksperimen suara telepon yang ditransmisikan melalui sinar laser. Laser gas menjadi dasar komunikasi optik fiber. Kini telekomunikasi melalui optik fiber menjadi umum, dan sekaligus menjadi teknologi utama internet jaman sekarang. Javan terus mengembangkan penemuannya dan berkonsentrasi dalam penggunaan bahan "nano scale" khususnya pada elektronika pada frekuensi optik. Dia telah mengantisipasi saat microchip akan beropeasi pada frekuensi gelombang ringan GHz (Giga-Hertz) daripada frekuensi radio MHZ (Mega-Hertz).

Anugerah Albert Einstein untuk ilmu pengetahuan adalah suatu anugerah yang diberikan oleh World Cultural Council setiap tahun. Anugerah ini sebagai penghargaan dan dukungan kepada mereka yang telah mengabdikan diri dan memiliki pencapaian tinggi di bidang ilmu pengetahuan melalui penelitian dan pengembangan teknologi. Pencapaian ilmu pengetahuan ini dipertimbangkan secara khusus oleh suatu komite kepada para peneliti yang telah memberikan kontribusi mendasar untuk kepentingan umat manusia. Anugerah ini diberikan untuk mengenang tokoh fisika terbesar di abad ke-20, Albert Einstein, dalam bentuk sertifikat (diploma), medali, dan uang.

Dalam suatu wawancara, Ali Javan memberi nasehat kepada generasi muda. Kita dilahirkan sebagai diri kita. Lingkungan hanya dapat berpengaruh sampai titik tertentu, dan tidak bisa secara keseluruhan dan itu perlu diyakini. Javan juga berpesan, ikuti keinginanmu yang membahagiakan dan hiduplah dengan kreatif. Dengarkan suara hatimu. Carilah karir yang menurut anda menarik, bukan terlihat menarik. Hidup secara kreatif membuat hidup nyaman dan mendapatkan penghasilan yang baik, serta menjadikan semuanya lebih berharga. (Diterjemahkan dan dirangkum dari berbagai sumber, buat anakku. Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Friday, May 21, 2010

Ringin Kurung Blitar

Ringin kurung di tengah alon-alon kota Blitar seolah menjadi primadona. Paling tidak jika dibandingkan dengan pohon beringin lainnya di pinggiran alon-alon. Ringin itu dikurung dengan pagar besi tinggi berwana kuning tembaga. Tinggi pagar hampir setinggi pohonnya. Pagar kurung rapat dengan rancangan besi dan memiliki pintu masuk dengan jalan berundak di keempat penjuru mata angin. Di bagian atas pagar terdapat lampu hias melingkari kurungan yang akan bersinar indah di malam hari. Orang Jawa menyebut pohon beringin dengan "ringin". Jadi ringin kurung itu pohon beringin yang diberi pagar di sekelilingnya, seperti dikurung. (Foto: Ringin Kurung, Alon-Alon kota Blitar).

Pohon beringin ini usianya mungkin sudah setua berdirinya kabupaten Blitar. Dan rasanya memang kurang lengkap kalau belum mendekati ringin kurung ini saat berkunjung masuk alon-alon. Untuk sekedar mengamati lebih dekat bentuk kurungannya serta relief-relief yang tertera di seputar tembok pondasi kurungan beringin. Atau bisa juga masuk ke dalam kurungannya. Relief itu berusaha menggambarkan potensi kekayaan alam dan produk andalan Blitar termasuk diantaranya relief gerombolan ikan koi, aktifitas masyarakat membuat kerajinan gendang dan barang gerabah, ibu-ibu pedesaan yang sedang mengolah hasil panen sawah, dan juga relief bangunan candi. Dan tentu ada relief Soekarno-Hatta saat membacakan teks proklamasi.

Ketika bocah saya kerap bermain di alon-alon melihat "bakul jamu" biasanya juga memainkan sulap untuk menarik calon pembeli. Waktu itu ada para penjual minuman tradisional di bawah Ringin Kurung. Minuman dawet yang dipikul oleh penjualnya ke alon-alon. Dawet dalam wadah kwali besar dari tanah liat dan dilengkapi irus (gayung kecil) pengambil dawet dari batok kelapa, bertangkai kayu berukiran gambar wayang. Di sebelahnya juga ada penjual minuman legen (nira kelapa) dalam bumbung-bumbung bambu besar dan panjang yang juga dipikul. Penjual es plered juga ada. Tentu terasa segar siang hari meneguk minuman tradisional itu sambil menikmati suasana alon-alon saat itu.

Kenapa Ringin ini dikurung? Jaman dulu menurut kepercayaan jawa tradisional, pohon beringin seringkali dianggap keramat sebagai suatu pohon besar tempat bersemayamnya mahkluk halus atau roh leluhur. Kepercayaan demikian itu bahkan kadang masih terlihat sampai sekarang dimana di beberapa daerah ada pohon beringin besar yang dikeramatkan dan dijadikan tempat untuk menempatkan sesaji. Orang-orang mendatanginya untuk menaruh harapan. Saya telah berusaha menanyakan kenapa ringin ini dikurung ke orang yang mungkin tahu alasannya. Tetapi jawaban yang saya dapatkan tidak ada hubungannya dengan kepercayaan mistis ini. Walau tak tertutup kemungkinan ada jawaban lain dari orang yang berbeda.

Terlepas dari nuansa mistis pohon beringin yang mungkin ada, menjaga pohon beringin tetap tumbuh sebenarnya mengandung suatu pesan yang bisa diajarkan yaitu menjaga dan melestarikan lingkungan alam. Pohon besar beringin memberikan banyak oksigen, mengurangi efek pemanasan global, memberikan keteduhan sekitar, dan guguran daunnya menjadi pupuk bagi pohon lainnya. Sedang di dahan dan ranting pohon beringin yang rindang juga menjadi habitat dan sarang berbagai burung dan serangga. Memang pohon beringin menyimpan "kehidupan" dan memberikan sesuatu pada kehidupan lain. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahhoo.com)

Saturday, May 15, 2010

Anomali Definisi Politik

Kalau tidak saya sudahi browsing arti politik mungkin berhari-hari belum selesai. Sebagai awam, saya hanya ingin cari tahu definisi politik khususnya yang berlaku di negeri ini. Saya ketik dan cari kata kunci politik melalui searching engine dunia internet. Saya baca sebagian kecil arti kamus, etimologi, sejarah atau artikel yang berkaitan politik. Lebih tepatnya sebagian kuecil sekali karena setelah enter kata kuncinya, saat itu ditemukan sekitar 8.680.000 hasil penelusuran untuk "politic" bahasa Inggris. Dan saya coba lain dengan kata kunci "politik" bahasa Indonesia sekitar 263.000.000 hasil penelusuran. Wah ratusan juta! Dan itu sepertinya belum termasuk jumlah yang diminta diklik untuk menampilkan hasil lainnya dari situs yang sama.

Selama klak-klik dan baca, saya berusaha pahami definisi politik dari situs KBBI online, the free dictionary, Webster, Oxford, dan podictionary. Juga berusaha memahami konteks politik dari artikel dan Wikipedia yang ternyata juga menyarankan membuka entri politik di Wiktionary, Wikibooks, Wikiquote, Wikisource, Wikinews dan Wikiversity. Wah yang ini nyerah! Lihat dari arti KBBI, politik adalah mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti tata sistem pemerintahan, dasar pemerintahan. Kamus free dictionary, Oxford dan Webster secara umum memuat mirip "the art or science of government or governing". Etimology dictionary "science of government," from politic (adj.), modeled on Aristotle's ta politika "affairs of state," the name of his book on governing and governments, which was in English mid-15c. as "Polettiques."

Wikipedia, free dictionary memuat "Politics is a process by which groups of people make collective decisions". Sedang dari Wikipedia bahasa Indonesia, politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pemahaman lain, politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Memang dalam satu artikel berbahasa Indonesia ada diyatakan bahwa politik memiliki definisi yang banyak tergantung sudut pandang yang digunakan oleh si pembuat definisi. Wow!

Entahlah, mana yang lebih tepat untuk bisa mewakili dan digunakan dalam memahami arti politik khususnya di negeri ini. Juga disebut bahwa memahami konteks politik perlu mengerti sistem politik, perilaku politik, filsafat politik, proses politik, dan lain halnya. Namun dari beberapa definisi dan konteks politik tersebut bisa diambil unsur-unsur pokoknya (1) berkaitan dengan pemerintahan dan negara, (2) pengambilan keputusan dan tujuan kolektif, (3) kebaikan bersama, (4) tujuan kekuasaan. Unsur lain agak berbeda bisa ditambahkan dari Wikipedia bahasa Indonesia yaitu "pembagian kekuasaan", dan politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara "konstitusional maupun nonkonstitusional".

Akhir browsing sampailah pada definisi politik di Yahoo! Answer. Dan semua tentu juga bisa menemukan dengan mengetik "Definisi politik secara etimologi?" Setelah enter akan segera ditemukan. “Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak”, by Adam: "POLITIK ITU SEBUAH SEBUTAN ATAU SEMACAM SIMBOL YANG MENJELASKAN CARA BAGI ORANG2 YANG BERMAIN TAKTIK, TEKNIK DAN STRATEGI DALAM MENJALANKAN MISINYA, BAIK MISI YANG BAIK ATAUPUN MISI YANG JAHAT DALAM MENCAPAI TUJUANNNYA. SMOGA BERMANFAAT OK". Ini lebih gampang dipahami khususnya definisi politik di negeri ini. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahho.com)

Monday, April 12, 2010

Menjinakkan Api Biru

Kebakaran terus saja terjadi melalap rumah, perkampungan, gedung, pasar atau pabrik. Mungkin api bisa cepat dipadamkan sebelum meluas namun juga bisa sampai berjam-jam bahkan berhari-hari. Korbannya bisa sampai ratusan jiwa. Bangunan hangus dan puing-puingnya rata tanah. Harta-benda yang dikumpulkan bertahun-tahun untuk masa depan hidup seketika terbakar habis. Tak kalah pilunya, jika ada anggota keluarga terjebak dalam kobaran api. Mereka mungkin saja selamat tapi harus menderita cacat seumur hidup. Pengalaman pedih ini tentu sulit dilupakan dalam hitungan bulan dan tahun. Bisa sampai akhir hayat! (Foto: Penulis dalam simulasi pemadaman kebakaran).

Seiring berkembangnya teknologi, sesungguhnya bahaya semakin mengintai dan resiko kebakaran menjadi meningkat dalam kehidupan manusia. Termasuk teknologi peralatan listrik, dan yang paling gres adalah alih teknologi kompor minyak menjadi kompor gas. Seperti umum disebut konversi minyak tanah ke gas. Alih teknologi ini berhasil dilakukan di berbagai kota negeri ini, mulai dari keluarga perumahan mewah sampai keluarga di kampung pinggiran yang padat. Mereka harus ikut peralihan ini karena tidak bisa lagi membeli minyak tanah untuk memasak. Dan sejak saat itu kebakaran dari kompor "api biru" ini mulai mengisi berita media cetak dan audio-visual.

Menggunakan kompor gas tanpa tahu resiko dan cara menanganinya ibarat menantang si "api biru" ini. Bahan bakar gas dibeli, nyala api dipantikkan, dan oksigen dipasok udara sekitar. Lengkap, ketiga syarat munculnya api telah tersedia. Dan jika tidak bisa dikendalikan inilah yang menyebabkan kebakaran. Bahkan bisa diikuti ledakan tabung gas. Di lingkungan perusahaan umumnya tabung gas dikategorikan bahaya "beresiko tinggi" dan harus ditangani dan diawasi secara seksama. Mengecek fisik tabung secara teratur. Memastikan tabung telah dilakukan tes hidrostatik. Penggunaan mengikuti prosedur yang ketat. Bandingkan penggunaannya di rumah!

Tata cara penggunaannya mungkin telah disampaikan langsung ke konsumen. Juga disosialisasikan melalui televisi dan media cetak. Konsumen kompor gas bervariasi latar-belakang dan demikian cara memahaminya. Bagaimana dengan resikonya? Menurut penulis ada lima titik berpotensi kebocoran gas beresiko kebakaran di (1) komponen dalam kompor, (2) sambungan kompor dan selang, (3) sepanjang selang, (4) sambungan selang dan kepala tabung, dan (5) badan tabung. Untuk mengantisipasinya saat membeli kompor dan selang pilih yang berkualitas dan berstandar nasional atau internasional. Periksa sambungan selang tidak bocor. Tabung gas berkondisi baik dan tidak banyak berkarat terutama di bagian las leher dan pantat tabung. Jangan lupa selalu bersihkan kompor dari tumpahan minyak.

Jika tercium bau gas bocor, pertama yang harus dilakukan segera matikan kompor gas. Kemudian tutup katup selang regulator dan lepas dari kepala tabung, lalu buka semua jendela dan pintu agar gas segera terdilusi udara sekitar. Jangan nyalakan kompor sebelum kebocoran gas diperbaiki! Sebagus dan semanfaat apapun kemajuan suatu teknologi selalu menimbulkan resiko baru, dan mengatasi resiko harus dimulai dari produsen, distributor sampai ke konsumen. Setiap pihak harus melakukan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing agar manfaat teknologi bisa diperoleh bersama. Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan manfaat. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Friday, April 2, 2010

Di Bawah Payung Raksasa

Setiap menjelang waktu sholat payung raksasa itu selalu mengembang dan menguncup kembali setelahnya. Di siang hari helai raksasa payung ini mampu menghadang teriknya panas matahari menerpa diri yang sedang bersujud, dan di kala malam menahan hawa dingin yang menusuk. Helai payung raksasa ini berbentuk bersegi berwana putih semu krem. Helai payung berhiaskan ornamen bentuk diamond berwana hijau. Saat mengembang, sisi-sisi helai payung saling bertemu dengan sisi-sisi helai payung lain, menghampar seperti atap langit. (Foto: Payung Raksasa, Masjid Nabawi Madinah).

Di pertengahan tinggi tiang terdapat lampu berkerangka hias berbentuk sangkar kuning memancarkan kilau cahaya keemasan. Lampu-lampu di dalamnya terlindung tutup kaca sehingga tetap mampu menerangi sekitar di malam hari dan menambah indahnya payung raksasa. Ketika payung mengembang penuh, kerangka sangkar lampu hias ini terlihat seperti pangkal bunga yang indah keemasan. Helai-helai payung raksasa seakan kelopak bunga putih indah yang sedang mekar. Megah diatas tangkai tiangnya yang menjulang dari permukaan lantai marmer yang mengkilap. Demikian saat menguncup ia seperti bunga kuncup kokoh tegak berdiri.

Payung raksasa ini terpasang di bagian luar dan dalam Masjid Nabawi Madinah Al Munawwarah. Saat akhir tahun 2008 payung-payung raksasa banyak terlihat di sebelah timur Masjid Nabawi. Sebagian diantaranya terdapat di bagian tengah masjid, menempati ruang langit-langit yang terbuka. Tiang-tiang payung terlihat sedang dibangun di sisi-sisi luar lain Masjid. Suatu pemandangan indah saat menguncup dan mengembang. Saat payung kuncup atau ketika kubah geser membuka, saat itu di dalam Masjid Nabawi diri ini bisa memanjatkan doa-doa penyejuk jiwa langsung beratap langit biru.

Masjid Nabawi dibangun berdasarkan asas taqwa oleh Rasulullah SAW saat masuk kota Madinah. Pada jaman nabi masjid itu dibangun seluas 2.500 m2 (50 x 50 m) dengan tinggi atap 3,5 meter. Kemudian Masjid Nabawi mengalami beberapa kali renovasi pada jamannya. Terakhir Raja Fahd merenovasi masjid dan mempeluas menjadi 82.000 m2 meliputi bangunan-bangunan terdahulu dengan tinggi atap 12.55 meter. Ini adalah proyek perluasan paling besar sepanjang sejarah Masjid Nabawi. (Sejarah Madinah Munawwarah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani).

Di bawah "payung raksasa", diri ini bersimpuh tasyahhud dengan jiwa tulus ikhlas di bawah iman "Tidak ada Ilah selain Allah". Setulus hati tanpa berhitung lipatganda pahalanya. Tidak ada sesuatu yang dapat menenteramkan jiwa dan mengusir kegalauan darinya, selain beriman yang sesungguhnya kepada Gusti Allah, Rabb semesta alam. Sehingga tercipta ketenangan dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati dalam menerima dan menjalani ketentuan Gusti Allah, serta keikhlasan dalam menerima segala takdir-NYA dalam kesementaraan dunia ini. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Saturday, March 27, 2010

Diantara Dua Sisi Berita

Di tengah hiruk-pukuknya era teknologi informasi, berita silih berganti di sekitar kita. Bisa kapan saja, pagi, siang, sore dan malam hari. Sewaktu-waktu! Telah banyak stasiun televisi yang menyiarkan berita setiap jam, atau setiap saat dengan breaking news. Kadang berita disajikan seapik dan semenarik mungkin untuk "menghibur" para penikmatnya. Dengan demikian lebih menarik berita yang didapatkannya. Juga para pemburu berita, rela mengejar berita sampai ke pelosok kampung, gunung, hutan, di siang, malam, hujan, panas untuk pemirsanya. Bahkan ditengah desingan peluru mereka ada! (Foto: Displai berita dinding surat kabar harian, Solo).

Kini memang para "penikmat" berita dimanjakan oleh perangkat teknologi informasi. Melalui gadget media online, berita juga mampu diakses. Berita, gambar dan video bisa didapat. Hingga sambil tiduran pun bisa mendapatkannya. Tinggal buka telepon gengam diantaranya, lalu browsing berita sambil tengkurap, miring atau terlentang. Semua berita lokal, nasional dan internasional. Bahkan berita itu di-update setiap detik! Berita gempa di negeri jauh segera dibaca. Gosip dunia artis segera diketahui. Bahkan melalui situs jaringan sosial, seorang teman tahu apa yang sedang dilakukan teman lainnya di seberang benua. Berita mudah dengan segala dampaknya.

Alhasil berita itu menjadi tak bisa dipisahkan dari keseharian setiap orang kini. Penyedia berita memahami peluang ini. Mereka tumbuh bak jamur, baik yang dikelola pribadi, kelompok maupun institusi. Mereka mengambil peran dan meramaikan bursa berita. Bahkan sebagian berusaha mengendalikan berita. Berita diulas dari berbagai sisi dan sudut pandang siapapun, apapun dan kapapun. Itu kebebasan pers! Dan kecenderungannya berita kontroversi sering digemari. Penyedia berita melihat ini! Penyedia berita terlibat dalam membuat kontroversi dan warna-warni berita yang berkembang.

Alur dasar pemberitaan perlu diteliti dari sudut pengirim, berita dan penerima. Kita perlu pahami tentang pengirimnya, makna berita itu sendiri, serta manfaat bagi penerimanya. Lebih lanjut memahami berita sesuai konteksnya. Setiap berita yang terbaca, terdengar dan terlihat harus disaring, ditelaah dan diteliti dulu kebenarannya. Tidak langsung disetujui atau tidak disetujui, apalagi langsung diikuti dan ditindak-lanjuti! Baik berita itu dari surat kabar, majalah, televisi, radio, situs berita, SMS, jejaring sosial atau lisan sekalipun. Tak jarang isi berita berbeda antar pengirim dan media dalam waktu singkat. Kita harus berhati-hati menyikapi perbedaan berita!

Dengan ketelitian mampu memahami kebenaran berita. Agar tak terjebak dalam misinterpretasi, distorsi, strategi atau konspirasi pemberitaan. Demikian terhindar dari dampak berita yang tidak membawa manfaat. Akhirnya kita harus berlapang-dada menerima kebenaran berita meski tak sesuai harapan, pemahaman, pengetahuan, atau keyakinan kita. "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu" (Q.S. Al Baqarah [2]: 147). Berita yang benar mampu menciptakan kehidupan yang tenang, menghilangkan kecurigaan, memberikan keselamatan, serta menenteramkan jiwa. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Sunday, March 14, 2010

Tarzan Pohon Besi

Dari waktu ke waktu permainan anak senyatanya tak berubah temanya. Dulu anak bermain menggelantung, mengayun, meluncur, melompat, memanjat, berjombatan, berputar, bermain air dan sekarangpun juga masih demikian. Hanya tempat dan sarana bermainnya yang berubah menyesuaikan kemajuan jaman dan kondisi lingkungan. Dulu anak bermain di alam aslinya di halaman rumah, kebun, sungai dan bahkan juga di pinggir jalan. Seiring berkembangnya waktu, habitat bermain anak ini semakin berkurang, bahkan hilang. Kalaupun masih, tak layak lagi untuk bermain. Kini mereka harus mencari habitat baru untuk bermain. (Foto: Jungle Gym, Playground di Recreational Park "Bon Rojo" Kota Blitar)

Jika dulu anak gemar bermain bergelantungan, sekarang pun masih demikian. Namun anak sekarang hanya bisa bermain ini di playground. Sarana buatan dimana anak bermain bergelantungan ini biasa dikenal jungle gym, monkey bar atau climbing frame. Seperti namanya, jungle gym ingin memberikan pengalaman kepada anak bermain olah-gerak badan bergelantungan layaknya di lingkungan alam aslinya. Biasanya terbuat dari pipa-pipa besi yang saling disambung dengan ulir atau las yang kuat dan halus. Model kerangkanya bisa berbeda-beda dari sederhana sampai sangat lengkap dan rumit strukturnya. Demikian anak bisa memanjat, duduk, menggantung, memutar dan mengayun.

Bermain bergelantungan ternyata bermanfaat bagi pengembangan fisik, sosial dan emosional anak. Memperkuat seluruh otot kaki, tangan dan badan. Meningkatkan kemampuan pengendalian dan keseimbangan badan. Bisa membantu anak meningkatkan kecekatan dan ketrampilan alamiah serta menciptakan percaya diri atas kemampuannya. Juga bisa mengembangkan imajinasi anak dengan gerakan-gerakan yang diinginkannya. Termasuk mengasah problem solving yang tepat dimana dan kemana harus bergelayut dan keluar diantara struktur yang harus dilewati. It improves power (strength to reach new heights), agility (moving from one point to another as quickly as possible), speed, balance (to stay on the path to the top), and coordination (Frost, 2005).

Namun jika tak berhati-hati, anak bisa terluka saat bermain ini. Bisa terpeleset, terbentur, terpelintir dan terjatuh. Akibatnya mungkin memar, keseleo, tergores, bahkan patah tulang. Sedikitnya lima hal penting ini perlu diperhatikan agar anak menikmati permainan jungle gym dengan selamat:
(1) Anak harus selalu diawasi ketika bermain.
(2) Pakaian anak jangan terlalu longgar dan banyak asesoris.
(3) Jangan gunakan jungle gym yang basah dan lincin.
(4) Tidak boleh menarik dan menghalangi gerakan anak lain yang sedang bermain bersama.
(5) Gunakan common sense, orang dewasa harus mencegah situasi dan gerakan anak yang bisa membahayakan.


Memang sungguh asyik bermain ini! Seolah Tarzan raja rimba bergelantungan dari akar-sulur dan dahan pohon lalu berganti menjangkau ke akar-sulur dan dahan lainnya. Kadang mengayun, memanjat, dan berputar diantara akar-sulur dan dahan. Pernahkah anda bermain bergelantungan seperti itu sewaktu kecil? Bermain seperti ini tentu sangat menyenangkan bagi anak-anak. Sampai lupa waktu. Dulu masih banyak pepohonan untuk sarana bermain disekitar rumah dan tempat-tempat umum. Lingkungan bermain anak yang menyenangkan di alam aslinya. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Saturday, February 27, 2010

Turk Bufesi

Tulisan "TURK BUFESI" itu terbaca di papan stainless sebuah toko di kompleks pertokoan belakang Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah. Dari unsur kata "bufe" mungkin tulisan itu artinya toko makanan Turki. Memang toko ini menjual berbagai minuman dan makanan. Toko ini berada diantara toko lain yang menjual berbagai peralatan sholat dan barang souvenir. Cukup mudah ditemukan karena toko ini selalu terlihat berjubel pembeli yang antri membeli makanan atau minuman. Toko sejenis bisa ditemui di beberapa tempat sekitar Masjid Nabawi. Penjaga toko bertopi putih kelihatan sibuk melayani pembeli. (Foto: Turk Bufesi, belakang Masjid Nabawi, Madinah).

Setiap minuman dan makanan yang ditawarkan di toko ini sangat menarik dinikmati. Yang khas dari toko ini adalah roti bulat-lonjong (seperti hotdog bun) berisi daging dan rempah. Di meja bagian depan toko ini terlihat daging ayam yang disusun bertumpuk-tumpuk melingkari poros besi yang bisa berputar. Di sisi dalam terdapat elemen listrik yang selalu membara untuk memanggang daging agar masak dan tetap panas. Diantara lapis-lapis tumpukan daging terdapat lemak yang sekaligus sebagai pelezat dan perekat diantara tumpukan daging. Di beberapa toko kadang hanya menyajikan satu jenis daging saja, namun ada toko yang menyajikan sekaligus daging ayam dan daging sapi.

Meramu makanan ini diawali dengan mengiris tipis-tipis dengan pisau di sisi luar susunan daging. Bergantian diiris di sisi lainnya agar susunan daging ini selalu berbentuk simetris tirus merata. Diameter lingkaran kecil di bagian bawah susunan daging dan besar di bagian atasnya. Bentuknya bagus terlihat! Irisan-irisan tipis daging yang jatuh di meja bawahnya dicampur dengan rempah dan sayuran (sejenis salad). Lalu sedikit dicacah dengan pisau agar potongannya tidak terlalu besar. Lalu disiapkan roti bulat-lonjong dan dibelah di tengahnya menjadi dua bagian. Campuran daging, rempah dan sayuran ini kemudian dimasukkan ke bagian tengah roti dan dibungkus kertas tissue.

Sungguh lezat rasanya! Harganya bisa 4 atau 5 real tergantung dari isi dagingnya apakah daging ayam atau sapi. Saat itu 1 real setara dengan sekitar 3 ribu rupiah. Umumnya para jamaah haji membeli dan membawanya pulang ke pondokan atau menikmatinya di sekitar toko. Sebagai pelengkap nikmatnya makanan ini, mereka juga membeli segelas minuman dari toko yang sama. Selalu saja toko sejenis ini banyak dikunjungi pembeli dan terlihat berkerumun di sekitarnya. Terutama di pagi hari setelah usai menunaikan sholat subuh atau malam hari setelah sholat isya' ketika jamaah dalam perjalanan pulang dari masjid Nabawi menuju pondokannya.

Sejarah kejayaan kesultanan Ustmani Turki yang pernah menjadi pusat peradaban Islam ternyata telah memberikan nuansanya di Madinah, termasuk makanannya. Dan masakan Turki ini menjadi menu yang umum dinikmati pemukim Madinah yang cukup hiterogen. Memang sejak awal-mula Madinah, banyak pendatang dari daerah dan negara sekitar tertarik menetap di Madinah karena kesuburan tanah dan kurmanya serta perkembangan kotanya yang pesat sebagai pusat perdagangan. Masakan Turki ini pun suatu saat terlihat dinikmati para pemukim sambil duduk beralas karpet dekat "Turk Bufesi" diterangi indahnya sinar lampu malam selepas sholat isya'. (Pulung Chahyono,
www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Saturday, February 13, 2010

Terdakwa di Siang Bolong

Siang itu sekitar jam 12:00 saya makan siang di rumah sebagaimana hari-hari biasanya. Setelah selesai makan siang yang disiapkan istri, sesekali saya ngobrol dengan anak terkecil saya yang asyik bersama mainannya. Saat itu saya masih duduk di kursi makan ketika nada dering telepon genggam saya berbunyi: "Tut tat tit tut tat tut tut…" Saya lihat ada panggilan dari nomor telepon seluler dan tidak terdapat namanya di layar telepon saya. Nama penelpon belum masuk di daftar kontak telepon. Saya penasaran ingin mengetahui siapa yang menelpon. Mungkin kenalan saya yang telah mengganti nomor telepon?

"Pak Dani, motor saya sudah selesai saya bawa ke bengkel... " terdengar jauh suara dari penelpon setelah saya pencet tombol terima telepon. Byuh, saya dipanggil dengan nama lain. "Maaf Bapak mungkin salah sambung, nama saya Pulung" saya berusaha menjawab dan menjelaskan nama saya bukan seperti yang dia sebutkan. Saya tunggu beberapa saat tetapi tak ada suara balasan yang terdengar. Saya berpikir penelpon telah menyadari bahwa dia telah salah tekan nomor telepon. Setelah sambungan telepon berhenti, saya memasukkan telepon genggam ke dalam saku baju. No problem, beberapa kali saya pernah menerima salah-telepon. Dan saya pun juga pernah salah menekan nomor telepon.

Setelah 1 jam beristirahat siang di rumah, saya keluar untuk berangkat melanjutkan kerja mencari nafkah. Sampai di tempat kerja saya langsung sibuk dengan pekerjaan harian di dalam dan luar tempat kerja. Sore hari saya meninggalkan tempat kerja dan pulang kembali ke rumah. Setelah makan malam, sambil leyeh-leyeh glethakan saya buka telepon. Saya ingin membaca berita terkini dari detik.com seperti biasa saat waktu senggang. Tertarik membaca booming berita yang laris-manis dibahas media saat ini! Namun saya lebih dulu lihat ada SMS di inbox telepon dan belum terbaca. Saya merasa tidak mendengar nada SMS masuk, mungkin waktu sibuk dengan pekerjaan. SMS pun saya buka.

Weladalah… agak kaget saya membaca isi SMS yang telah dikirim jam 13:34 siang. Saya berusaha memahami kata demi kata secara perlahan: "Pak dani sampean nda ush brkelit mdh2an bpk mrsakn apa yg tlh saya alami jd bpk tau gmn rasax jth dri mtr bknkh bpk jnji br tnggng jwb". Beberapa saat saya terus berusaha memahami maksud isi SMS yang seutuhnya. Kemudian saya lihat nomor pengirim SMS, dan saya cocokkan dengan nomor telepon masuk waktu saya istirahat siang tadi. Nomornya sama! Berarti orang yang sama; orang yang telah menelpon saya saat istirahat siang dan orang yang mengirim SMS ini.

Saya mereka-reka kejadian. Penelpon sekaligus pengirim SMS itu mungkin korban kecelakaan lalu-lintas. Dia pengendara motor dan terlibat kecelakaan dengan kendaraan lain yang dikemudikan oleh orang bernama Pak Dani. Kemudian Pak Dani berjanji akan mengganti biaya kerusakaan motornya. Oh my… saya segera telepon nomornya, tapi suara mesin penjawab otomatis operator yang terdengar: "Maaf telepon yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan area". Sampai 3 kali saya berusaha menelponnya dan selalu tidak tersambung. Saya ingin sampaikan lagi bahwa saya benar-benar bukan Pak Dani seperti yang dia maksudkan. Semoga segera terselesaikan masalahnya Bro! (Pulung Chahyono, http://www.pulung-online.blogspot.com/, mitra_ulung@yahoo.com)

Friday, February 12, 2010

Doa Keselamatan Anak Negeri

Setiap tahun warga kampung kami berkumpul bersama mengadakan doa keselamatan kepada Sang Murbeng Dumadi di acara Bersih Desa. Suatu tradisi slametan desa yang dimaksudkan untuk membersihkan unsur-unsur negatif dan energi merusak dari lingkungan desa. Kami berdoa bersama agar terhindar dari musim paceklik, wabah penyakit, gagal panen, bencana alam dan malapetaka lainnya. Tanpa memperhatikan agama dan keyakinan, semua orang laki-laki dewasa mewakili keluarganya hadir dan berkumpul untuk memanjatkan doa keselamatan. Biasanya acara doa Bersih Desa kami adakan di perempatan jalan desa, namun jika situasi kurang memungkinkan karena hujan atau hal lain tempatnya dipindahkan di balai kelurahan atau tempat lain yang disepakati bersama. Kami semua duduk bersila berjajar beralas tikar dan saling berhadapan memanjang.

Setiap orang yang datang membawa ambeng makanan nasi (dulu masih sering ada nasi jagung atau campuran beras-jagung), sayur dan lauknya. Sesuai kemampuan ekonomi setiap keluarga, makanan yang dibawa akan bervariasi, ada yang berlauk tempe, daging ayam dan daging sapi. Makanan dikumpulkan dulu, lalu dibagikan secara acak dan rela sebelum doa keselamatan dimulai oleh Modin Desa atau pemuka spiritual kampung. Selesai berdoa, kami menikmati acara makan bersama dan selebihnya makanan dibawa pulang untuk keluarga di rumah. Karena mayoritas kami adalah petani, biasanya ada ubo rampe berbagai hasil bumi, sebagai simbol agar kami selalu diberi rejeki dengan melimpahnya hasil tanaman dan buah-buahan.

Tentu saja setiap insan ingin selamat! Dimanapun mereka, di desa atau kota, di gunung atau pantai. Mereka selalu memiliki doa keselamatan baik sendiri maupun bersama yang mungkin dengan bahasa dan cara yang berbeda. Demikian pagi itu komunitas anak negeri berkumpul bersama memanjatkan doa di tengah lapangan sepakbola. Kami saling berdekatan membentuk lingkaran menghadap satu titik di tengah. Bersatu hati berdoa memohon keselamatan kepada Sang Maha Pencipta dipimpin oleh setiap pemuka agama. Dinaungi mendung yang sedikit mewarnai langit dan menyejukan pagi. Disaksikan pegunungan yang kokoh berdiri melingkungi dan lerengnya terhampar hijau daun pepohonan seakan diselimuti permadani.

Sebelum mengakhiri acara doa keselamatan bersama terdengar lagu "Heal the World". Tangan saling bergandengan satu dengan lainnya. Seakan simbol bahwa kami satu sebagai anak negeri dan akan terus berbuat bersama agar negeri pijakan kami selalu dalam keselamatan. Kami berharap kehidupan akan lebih baik bagi kami, keluarga dan anak-cucu. Menyanyi bersama seakan harapan segera terwujud: Heal the world. Make it a better place. For you and for me and the entire human race. Tanpa menuntut siapapun kecuali bagi "anda dan saya" memulai dari diri sendiri di lingkungan sendiri agar keselamatan hidup tercipta. Kita peduli dengan kehidupan ini.

Doa keselamatan kepada Sang Pencipta Alam sering berbeda dalam bentuk ritual, sarana dan simbolnya di berbagai lingkungan dan belahan dunia. Mereka berdoa menurut agama dan keyakinan sesuai ajaran, kondisi, tradisi, atau kesepakatan komunitasnya. Adalah universal setiap komunitas selalu mendambakan keselamatan dan memiliki ritual doa keselamatan. Seperti jalannya kehidupan, sesungguhnya berdoa itu berarti bersyukur, berharap, dan bersabar. Disamping bijak bersikap dan bertindak agar setiap insan, unsur alam dan sistem nilai kehidupan terus terjaga keselarasannya demi selalu tercipta keselamatan bagi semua makhluk dan lingkungan alam. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Tuesday, January 26, 2010

Tatkala Alam Berubah Garang

Seakan bencana terus saja terjadi di negeri ini. Mulai kecelakaan tragis angkutan darat, laut, dan udara karena cuaca katanya. Robohnya gedung serta kebakaran bangunan dan hutan mengorbankan manusia dan lingkungan. Banjir bandang dan air meluap menggenangi pemukiman berakibat lumpuhnya kehidupan. Jebolnya tanggul air yang melanda perumahan. Longsor tanah dan lumpur dari lereng perbukitan dengan korban jiwa dan harta benda. Wajar jika lalu terbetik pikiran dan pertanyaan apa kesalahan manusia hingga harus menanggung bencana berat dan terus-menerus?

Heinrich (1931) dengan teori empirisnya bahwa "an accident is the end result of a chain of events". Suatu kecelakaan (accident), dalam skala besar disebut bencana (disaster), hanyalah akibat semata yang disebabkan rangkaian kejadian sebelumnya. Tidak begitu saja terjadi. Ini lalu dilanjutkan Frank Bird melalui penelitian berbagai kecelakaan di seluruh dunia bahwa faktor penyebab terbesar adalah perilaku tidak selamat manusia 88%, kondisi berbahaya 10% (bisa dikendalikan manusia), serta diluar kendali manusia 2%. Jadi kecelakaan atau bencana disebabkan oleh rangkaian kejadian "tidak selamat" sebelumnya dan manusialah pelaku utamanya.

Bahkan 14 abad lalu, Gusti Allah telah memperingatkan manusia melalui firman-NYA: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar" (Q.S. Ar-Rum [30]: 41). Perbuatan tangan manusia harus dipahami secara menyeluruh disamping makna perbuatan destruktifnya, juga kelalaiannya melakukan perbuatan preventif. Kelalaian manusia sebagai pengemban rahmatan lil alamin. Tentu termasuk kelalaiannya membuat tata aturan, sarana dan tindakan pencegahan agar hasil budaya dan perilakunya tidak bersifat merusak dan tetap mempertimbangkan keselamatan manusia dan alam.

Setelah terjadi bencana sering terbincang korban jiwa sekian orang, sejumlah rumah rusak, dan sekian besar biaya ruginya. Ini akibat langsungnya saja! Ibarat hanya ujung kepala gunungnya saja, belum perut dan kaki gunungnya. Benar, mereka hanya berbincang akibat di daerah "permukaan" saja. Akibat tidak langsungnya bisa diibaratkan sebagai perut dan kaki gunung itu. Disitu justru lebih berlibat-ganda akibat yang harus ditanggung; orang kehilangan sanak keluarganya, anak terhenti sekolahnya, mereka cacat badannya, orang kehilangan mata pencahariannya, hasil budaya yang hilang. Lebih banyak lagi mutiplier efects yang berimbas!

Ketika alam menjadi garang menebar bencana, saat itulah titik dimana manusia tak akan mampu lagi mencegahnya (Point of No Return). Tidak akan pernah bisa mengembalikannya seperti sediakala walau dibantu pihak manapun. Ibarat nasi telah menjadi bubur, tak bisa dikedang lagi. Dan bencana itu telah menebarkan kerusakan dan kepedihan. Lebih parah sampai tingkat yang tiada terkira nilai dan lamanya waktu. Bahkan sampai anak cucu! Manusia harus menanggung akibat perbuatan destruktif maupun kelalaian preventif yang harus dilakukan sebelum Point of No Return. Dan sebaik-baik upaya adalah mencegahnya. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com)