Thursday, August 12, 2010

Kekasih Yang Tak Dianggap: HUT RI

"Hanya kita sendiri yang bisa lebih mencintai diri kita sendiri daripada orang lain" diucapkan di atas panggung oleh Pinkan Mambo, seorang artis penyanyi. Ucapan ini diantara prolog yang dia sampaikan sebelum menyanyikan lagu hitnya "Kekasih Yang Tak Dianggap". Saya memuji kemampuan dia berinteraksi dengan penonton di depan dan sekitar panggung yang berdiri kokoh di pinggir timur lapangan sepakbola berumput sintetis. Interaksi tidak hanya mengandalkan gerakan tubuh, tetapi juga kata dan terlebih semangat menghiburnya. Bahkan sampai rela berbasah-basah terkena rintik hujan saat terus berusaha di atas open stage bundar di depan panggung utama HUT RI.


Lagu itu salah satu dari beberapa lagunya yang dia nyanyikan. Semua lagunya mampu menggiring emosi penonton. Dia memang mampu menghidupkan panggung dan menghibur penonton. Terdengar suara-suara lirih penonton ikut bernyanyi. Mereka terlihat menikmati suasara pentas musik dan lagu yang dia senandungkan. Mungkin karena lagu-lagu hitnya sendiri yang dia bawakan. Dan dia mampu memilih dan menyanyikan lagu hit penyanyi lain yang pas dengan karakter keartisan dia dan suasananya. "I love you" beberapa kali diteriakkan sebelum meninggalkan panggung setelah lagu terakhirnya. Suasana interaksi tetap hidup di saat langkah-langkah terakhirnya meninggalkan panggung.

Menjelang Agustus, panggung hiburan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia mulai meriah menghiasi dan menghibur berbagai tempat di negeri ini. Banyak kegiatan standard tahunan diadakan untuk menyambut hari kemerdekaan, seperti pawai karnaval, panjat pinang, lomba permainan anak, bazar, dan sebagainya. Juga tentunya pertunjukan panggung hiburan itu, yang dimeriahkan sendiri oleh warga pemukiman atau dengan mengundang artis lokal maupun nasional. Terlihat berbagai ornamen perayaan; gapura didirikan, lampu hias dipasang berwarna-warni, umbul-umbul menjulang tinggi dan tentunya bendera merah-putih terlihat berkibar. Seakan saat itu rasa nasionalisame menyeruak di seluruh pelosok negeri.

Di sisi lain seiring berkembangnya demokrasi, kebebasan, globalisasi dan tekonologi, saat ini di seluruh pelosok negeri sudah begitu beragam partai, asosiasi, federasi, keyakinan dan hasil budi-daya. Keberagaman itu indah dan seharusnya memberi manfaat. Namun sulit dipungkiri juga menumbuhkan conflict of interest yang cenderung bergesek saling-silang, dan bagi sebagian mereka rela melunturkan semangat kebangsaan dan nasionalisme demi kepentingannya. Kepentingan pribadi dan kelompok diagungkan mengabaikan peri kehidupan bernegara. Bahkan ada kelompok yang berlatih di negeri lain dan menyiapkan diri untuk menggoyang negeri sendiri. Mereka perjuangkan kepentingannya dengan memecah dan mengorbankan negeri sendiri.

Bukan bermaksud berlebay-ria. Ibarat negeri ini seperti judul lagunya Pinkan Mambo "Kekasih yang Tak Dianggap" oleh anak negerinya sendiri. Ya, mungkin saja anak negeri lebih melirik dan terpikat negeri lain. Seakan negeri ini sudah tidak elok dan tidak indah lagi. Namun siapa lagi yang bisa mencintai negeri ini selain anak negeri sendiri? Ternyata prolog Pinkan Mambo di atas bisa mengingatkan kita: "Hanya kita sendiri yang bisa lebih mencintai negeri kita sendiri daripada orang lain". Kita sering menyebut "negeri tercinta" pada negeri ini. Semoga saja tidak terlalu berdusta karena sebenarnya kita tidak menganggap negeri sendiri. (Pulung Chahyono, http://www.pulung-online.blogspot.com/, mitra_ulung@yahoo.com)

No comments: