Sunday, February 23, 2014

Jangan Musuhi Kebaikan

Rule of tumb-nya, orang baik harus didukung. Seperti halnya kasus akhir-akhir ini tentang pemimpin Surabaya dan Jakarta. Kenyataannya Risma & Jokowi telah melalui proses pemilihan mayoritas sebagai pemimpin. Harusnya tidak ada pengkondisian hingga Risma berniat mengundurkan diri atau penyadapan di kamar rumah Jokowi hingga terkesan ingin mengorek isu pribadi. Bahkan kemudian mereka mengatakan lebay dan pencitraan terhadap Risma & Jokowi.

Kalau mau mempermalahkan seharusnya kepada mereka yang tidak baik, jangan malah takut kepada mereka. Kalau orang baik diganggu dan dipermasalahkan memberi kesan tidak nyaman dan bahagia menjadi orang baik di negeri ini. Telah diketahui Risma sebagai walikota Surabaya nyata-nyata membawa kebaikan kota yang dipimpinnya. Ini diakui pemerintah dan tokoh-tokoh negeri ini. Bahkan dunia pun mengakuinya dengan berbagai pengharaan tingkat internasional telah diterima Risma.

Demikian juga Joko Widodo sebagai Gubernur Jakarta telah terbukti mampu merubah menjadi lebih baik kondisi Jakarta sejak kepemimpinannya dua tahun lalu. Walau belum setengah dari masa jabatannya namun dia telah melakukan perbaikan yang tidak dilakukan selama puluhan tahun oleh pemimpin-pemimpin Jakarta sebelumnya. Prestasinya diakui oleh masyarakat internasional. Ini terbukti dengan penghargaan dan pemberitaan berbagai media internasional.

Jangan sampai orang baik yang ingin memperbaiki keadaan negeri ini, menjadi ciut nyalinya melihat gencarnya gangguan terhadap orang baik. Bahkan akhirnya dia berubah menjadi masa bodoh. Atau ikut melepas kebaikan yang diyakininya? Jika demikian maka tunailah ramalan pujangga Ronggo Warsito, Amenangi jaman edan, ewuh oyo ing pambudi. Melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, buya kaduman melik, kaliren wekasanipun.

Bagaimanapun orang baik harus didukung. Perlu jeli, kebaikan rencana dan perilakunya, karena mungkin rencana baik, tetapi kemudian dia lalai melakukannya. Ini hanya apus-apus seperti halnya ketika menarik perhatian publik dengan rencana program selangit. Sehingga, baik itu melalui tuturkata dan perilakunya, rencana dan pengejawantahannya. Di baris akhir ramalan Ranggo Warsito berpitutur, Ndilalah kersaning Allah, begjo-begjaning kang lali, luwih begjo kang eling lan waspodo. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com; mitra_ulung@yahho.com)

No comments: