Sunday, August 14, 2011

Peranakan India di Pasar Dimoro

Hari itu hari pasaran pasar hewan Dimoro Blitar. Pagi hari saya sudah berada di pasar kambing untuk mencari sendiri kambing aqiqoh buat anak saya. Saya merasa lebih puas dengan ini. Walau bau kambing menyengat, saya tidak begitu pedulikan. Wong aslinya orang kampung yang pernah terbiasa dengan bau seperti itu. Saya berjalan diantara sela kambing-kambing yang diikat di pipa besi. Sesekali berhenti, bertanya harga kambing dan sedikit ngobrol dengan penjualnya. Sambil memegang badan kambing untuk memastikan kambingnya gemuk atau kurus. (Foto: Pasar Kambing Dimoro, Blitar).

Saya bertemu kawan lama yang menjalani sebagai blantik kambing puluhan tahun. Masih seperti dulu, dia semangat menawarkan kambingnya. Sambil ngobrol dengannya, beberapa kambingnya laku terbeli oleh orang-orang yang mencari kambing di pasar. Seperti blantik lainnya, dia selalu mengatakan kambingnya gemuk dan dia tidak mencari untung banyak. Bahkan dia kadang tidak mendapatkan untung, yang penting bisa kembali modal untuk membeli kambing. Yah, namanya juga blantik. Dia hanya tertawa.

Tidak terburu-buru saya membeli kambing. Sambil nyantai di pasar kambing. Ketika kaki capek berdiri, saya duduk di pinggir pasar. Disamping penjual pisau dan arit. Mengamati kambing-kambing yang sedang dijual, sambil merokok dan ngobrol ngalur-ngidul dengan orang sekitar dan penjual pisau. Saya tertarik dan membeli satu batu ungkal pengasah pisau dan satu arit untuk keperluan di rumah. Itung-itung sebagai pengimbang karena saya telah duduk di samping dagangannya.

Berbeda dengan kambing asli lokal jawa yang tidak terlalu tinggi dan besar yang dulu sering saya lihat. Kebanyakan kambing yang dijual di pasar sekarang kambing blesteran Ettawa. Kambing Ettawa itu aslinya dari negara India. Tinggi kambing pejantan asli Ettawa bisa sedada pemiliknya, sekitar 120 cm. Saya pernah lihat lomba kambing Ettawa yang diadakan oleh Paguyuban Peternak Kambing Ettawa di pasar ini juga. Badannya tinggi berbulu lebat di bagian leher, kaki depan dan kaki belakang. Kupingnya panjang menjulur ke bawah.

Memang kambing blesteran Ettawa sangat diminati. Badannya lumayan besar. Cukup pas dagingnya untuk acara slametan. Berbeda dengan kambing lokal asli jawa yang kecil, yang biasa disebut kambing kacang. Tinggi pejantannya hanya sekitar 60 cm, sedang betinanya lebih pendek. Populasi kambing lokal ini sudah jarang dan kurang laku di pasar. Kini pasar kambing dipenuhi blesteran kambing Ettawa dengan kambing lokal. Orang biasa menyebut "PE" singkatan dari Peranakan Ettawa. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

No comments: