Kabar burung pun ada masanya. Tahun 1960-an, burung-burung liar masih banyak terlihat dan bekicau di halaman rumah. Bahkan lagu-lagu nostalgia ada yang bercerita tentang indahnya kicau burung menyongsong pagi hari dari pepohonan halaman rumah. Saat itu masih banyak pohon tumbuh di halaman dan rumah-rumah pemukiman belum sepadat sekarang.
Kemudian tahun 1990-an, burung liar mulai hilang dari halaman rumah seiring dengan mulai hilangnya pepohonan dari halaman rumah yang semakin padat. Juga karena dibedil atau disangkarkan. Lalu tahun 2020-an burung liar mulai menemukan habitatnya lagi halaman rumah. Penduduk mulai menanam kembali pepohonan di halaman rumah pedesaan dan perkotaan, seiring program penghijauan. Juga mulai digemari pohon buah berbagai varietas unggul manarik dibudidayakan dalam pot (tabulampot) atau langsung ke tanah tanpa pot di halaman rumah.Saat ini, sepenglihatan saya paling tidak ada lima jenis burung liar yang mulai terlihat menghiasi halaman rumah. Saya buatkan "bird feeder" dibawah pohon dengan isian biji2an saya beli dari toko pakan burung. Pertama, Burung Gereja memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya. Berwarna cokelat-kelabu dan berekor pendek. Pemakan biji dan serangga kecil. Burung yang tidak takut bersarang dekat atau di bangunan perumahan.
Kedua, Burung Emprit Hitam kecokelatan. Pemakan biji-bijian. Pernah bersarang di lampu gantung dalam rumah. Ketiga, Burung Emprit Haji. Dinamakan demikian karena bagian kepala hewan ini berwarna putih, seolah memakai peci putih sepulang haji. Burung yang bermitos baik, Emprit Haji bersarang di pohon halaman rumah.
Keempat, Burung Perkutut. Kepalanya berwarna abu-abu dan punggung cokelat. Mereka hidup berpasangan atau berkelompok kecil. Kelima, Burung Tekukur. Sejenis burung merpati kecil warna cokelat kemerah-jambuan. Bercak hitam putih khas pada leher. Burung Tekukur mencari makan di permukaan tanah halaman, terlihat selalu berpasangan. Menanam pohon di halaman membuat lingkungan kembali hijau segar dan dapat mengembalikan kicau burung tanpa harus menyangkarkannya. (Pulung Chahyono, M.Kes., mitra_ulung@yahoo.com, www.pulung-online.blogspot.com)