Jalinan cinta memang bisa membuat indah kehidupan, dan demikian putusnya cinta dirasa seakan mencabut keindahan hidup, bahkan makna kehidupan. Mengapa seorang pencinta seringkali tak mampu bertahan menjalani hidup normalnya setelah putus cintanya? Kenapa seorang pencinta menjadi kehilangan semangat hidup sejak berpisah dengan kekasih yang dicintainya? Kenapa ia menjadi sangat sedih dan merana hidupnya karena ditinggalkan orang yang dicintanya? Pertanyaan-pertanyaan ini sudah setua peradaban manusia.
Pepatah "bagai ayam putih terbang siang" agaknya pas menggambarkan mudahnya melihat anak-anak dibawah umur berkelebat mengemudi kendaraan bermotor di sekitar kita. Sudah jamak! Anak yang masih di bawah umur leluasa menunggangi kuda besinya meraung keras di keramaian jalan hitam beraspal. Persoalan pengemudi di bawah umur seolah diabaikan di lingkungan kita, dan dianggap tak jadi masalah walau jelas melanggar aturan batas usia kewajiban memperoleh Surat Izin Mengemudi kendaraan bermotor beroda dua atau lebih.
Di masa kolonial Belanda, tahun 1862 seorang barrister berkebangsaan Inggris kelahiran Singapura, William Barrington D’Almeida beserta istrinya mengunjungi Blitar dalam rangkaian perjalanannya di Pulau Jawa. Dia menuliskan pengalamannya di Blitar di halaman 298 dalam bukunya Life in Java: with Sketches of Javanese, Vol. I, diawali dengan "Blitar is less than half a day's journey from Kedirie, and is a delightful excursion for those who care for beauty of scenery". William menempuh perjalanan selama kurang setengah hari dari Kediri menuju Blitar dan ini merupakan perjalanannya yang menyenangkan karena keindahan alamnya. (Foto: Desa Krisik, Blitar)
Saya masih bisa merasakan jenang lebaran tahun ini di kampung. Enak tenan jenang kampungnya. Terasa kenyil-kenyil manis legit! Setelah beberapa lebaran sebelumnya saya ndak berkesempatan merasakannya. Seperti menemukan kembali jajanan lebaran yang hilang. Bisa saja saya termasuk sebagian kecil dari sekitar 20 juta pemudik yang bisa merasakan suguhan jenang saat lebaran tahun ini. Teringat puluhan tahun lalu selalu mudah merasakan jenang suguhan jajan lebaran di rumah-rumah kampung halaman. Jenang berwarna coklat dengan irisan khasnya memang menjadi suguhan semi-wajib saat lebaran dan slametan kala itu.
Malam semakin larut, angin semilir perlahan menambah dinginnya malam. Para penduduk kampung Pakunden, Blitar lebih awal masuk rumah, menutup dan mengunci pintunya di malam Jumat Kliwon. Mereka menyuruh anak-anaknya segera beranjak tidur di kamarnya. Sebelum tengah malam Asu Baung bisanya akan keluar dengan lolongan panjang membelah sunyinya malam dari Pemakaman Eyang Sewu Negoro, pesarean danyang cikal bakal penduduk Pakunden.