Saturday, September 24, 2011

Singkong Goreng Mall

Alhamdulillah ya, singkong sekarang sudah jadi “sesuatu” banget. Saya pandangi pohon-pohon singkong meranggas dari jendela rumah saya. Lama tak diguyur air hujan, di penghujung musim kemarau panjang tahun ini. Teringat beberapa hari lalu saya menikmati singkong goreng di Mall Ciputra Kawasan Simpang Lima Semarang. Top Markotop, songkong goreng itu telah merambah dunia mall mewah. Singkong goreng yang dulu hanya dinikmati di teras depan rumah-rumah kampung atau di warung-warung kecil. (Foto: Tea & Snack Bar outlet, Kawasan Simpang Lima Semarang)

Kios itu, eh kalau di Mall pakai istilah "outlet" ding, tertera tulisan Tea & Snack Bar. Saya duduk di kursi yang disediakan. Kemudian datanglah waiter membawa daftar menu. Awalnya saya ingin memesan minuman jasmine tea saja sambil beristirahat sejenak. Tapi setelah melihat ada Singkong Goreng dalam daftar menu saya memesannya juga. Saya sempat berpikir pasti lebih mantap makan singkong goreng di mall. Ternyata benar! Tapi sebenarnya bukan karena mallnya, memang lidah ini cukup akrab dengan singkong.

Mereka menyajikan songkong goreng seperti yang diharapkan banyak penikmatnya. Singkong goreng dihidangkan dalam kondisi masih panas, mongah-mongah. Walau demikian sebaiknya ditunggu sebentar agar panasnya berkurang, daripada mulut mecuca-mecucu di mall karena mulut kepanasan. Setelah dipesan, potongan singkong mentah langsung digoreng oleh pramusajinya dan disajikan setelah matang. Enak tenan, di warung biasa pun sekarang sulit lho bisa menikmati singkong goreng yang baru dientas dari penggorengan.

Cukup menarik cara menyajikannya. Singkong goreng yang baru dientas dan ditiriskan dari penggorengan, langsung disajikan dalam besek kecil yang terbuat dari anyaman lidi daun kelapa. Kalau di kampung, potongan singkong goreng itu sak gegem, sekepal tangan orang dewasa. Tapi disini potongan singkong goreng lebih "manusiawi"; lebih kecil sehingga pas dimasukkan ke mulut manusia untuk disantap. Makannya tidak harus dipegang langsung dengan tangan tapi bisa dengan tusuk yang disediakan. Tapi kalau ndak tlaten langsung saja dipegang dan dimakan. Wong juga disediakan tissue.

Mungkin orang berpikir Mall identik dengan bisnis merchandise modern atau makanan wah. Ternyata tidak sepenuhnya demikian. Singkong Goreng pun ada di mall. Dan semua bisa menikmati singkong goreng di mall, dengan harga sedikit lebih mahal. Bahkan juga ada pilihan snack bar trandisional; pisang goreng, mendoan, tahu pong dan lainnya. Ini memberi added-value singkong dan kue tradisional.  Paling tidak membuat pede bagi penikmat singkong goreng, sejajar dengan makanan londho di mall, seperti Fried Chicken, Pizza atau Donat. (Pulung Chahyono, http://www.pulung-online.blogspot.com/, mitra_ulung@yahoo.com)

4 comments:

Punya.Tia said...

hmmmm...... saia suka gaya tulisan situ.... like thisss...


kunjungan pertama,
salam..

Stylish Generation

pulung said...

Trims ya Tia sudah mampir.
Saya juga sempat berkunjung ke blog Tia, salut dengan banyaknya ide dan info.

Salam, pulung

Widi Dede said...

sesuatu yang di olah dengan baik pasti hasilnya memuaskan termasuk singkong ini :)

Kamu Blogger...? Yuk Ikutan Event Untuk Blogger Berhadiah Blakberry Playbook Berakhir 23 Desember 2011

pulung said...

Konde, setuju banget, cara mengolahnya mempengaruhi rasa singkongnya :)