Kebakaran terus saja terjadi melalap rumah, perkampungan, gedung, pasar atau pabrik. Mungkin api bisa cepat dipadamkan sebelum meluas namun juga bisa sampai berjam-jam bahkan berhari-hari. Korbannya bisa sampai ratusan jiwa. Bangunan hangus dan puing-puingnya rata tanah. Harta-benda yang dikumpulkan bertahun-tahun untuk masa depan hidup seketika terbakar habis. Tak kalah pilunya, jika ada anggota keluarga terjebak dalam kobaran api. Mereka mungkin saja selamat tapi harus menderita cacat seumur hidup. Pengalaman pedih ini tentu sulit dilupakan dalam hitungan bulan dan tahun. Bisa sampai akhir hayat! (Foto: Penulis dalam simulasi pemadaman kebakaran).Seiring berkembangnya teknologi, sesungguhnya bahaya semakin mengintai dan resiko kebakaran menjadi meningkat dalam kehidupan manusia. Termasuk teknologi peralatan listrik, dan yang paling gres adalah alih teknologi kompor minyak menjadi kompor gas. Seperti umum disebut konversi minyak tanah ke gas. Alih teknologi ini berhasil dilakukan di berbagai kota negeri ini, mulai dari keluarga perumahan mewah sampai keluarga di kampung pinggiran yang padat. Mereka harus ikut peralihan ini karena tidak bisa lagi membeli minyak tanah untuk memasak. Dan sejak saat itu kebakaran dari kompor "api biru" ini mulai mengisi berita media cetak dan audio-visual.Menggunakan kompor gas tanpa tahu resiko dan cara menanganinya ibarat menantang si "api biru" ini. Bahan bakar gas dibeli, nyala api dipantikkan, dan oksigen dipasok udara sekitar. Lengkap, ketiga syarat munculnya api telah tersedia. Dan jika tidak bisa dikendalikan inilah yang menyebabkan kebakaran. Bahkan bisa diikuti ledakan tabung gas. Di lingkungan perusahaan umumnya tabung gas dikategorikan bahaya "beresiko tinggi" dan harus ditangani dan diawasi secara seksama. Mengecek fisik tabung secara teratur. Memastikan tabung telah dilakukan tes hidrostatik. Penggunaan mengikuti prosedur yang ketat. Bandingkan penggunaannya di rumah!Tata cara penggunaannya mungkin telah disampaikan langsung ke konsumen. Juga disosialisasikan melalui televisi dan media cetak. Konsumen kompor gas bervariasi latar-belakang dan demikian cara memahaminya. Bagaimana dengan resikonya? Menurut penulis ada lima titik berpotensi kebocoran gas beresiko kebakaran di (1) komponen dalam kompor, (2) sambungan kompor dan selang, (3) sepanjang selang, (4) sambungan selang dan kepala tabung, dan (5) badan tabung. Untuk mengantisipasinya saat membeli kompor dan selang pilih yang berkualitas dan berstandar nasional atau internasional. Periksa sambungan selang tidak bocor. Tabung gas berkondisi baik dan tidak banyak berkarat terutama di bagian las leher dan pantat tabung. Jangan lupa selalu bersihkan kompor dari tumpahan minyak.Jika tercium bau gas bocor, pertama yang harus dilakukan segera matikan kompor gas. Kemudian tutup katup selang regulator dan lepas dari kepala tabung, lalu buka semua jendela dan pintu agar gas segera terdilusi udara sekitar. Jangan nyalakan kompor sebelum kebocoran gas diperbaiki! Sebagus dan semanfaat apapun kemajuan suatu teknologi selalu menimbulkan resiko baru, dan mengatasi resiko harus dimulai dari produsen, distributor sampai ke konsumen. Setiap pihak harus melakukan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing agar manfaat teknologi bisa diperoleh bersama. Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan manfaat. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)
Setiap menjelang waktu sholat payung raksasa itu selalu mengembang dan menguncup kembali setelahnya. Di siang hari helai raksasa payung ini mampu menghadang teriknya panas matahari menerpa diri yang sedang bersujud, dan di kala malam menahan hawa dingin yang menusuk. Helai payung raksasa ini berbentuk bersegi berwana putih semu krem. Helai payung berhiaskan ornamen bentuk diamond berwana hijau. Saat mengembang, sisi-sisi helai payung saling bertemu dengan sisi-sisi helai payung lain, menghampar seperti atap langit. (Foto: Payung Raksasa, Masjid Nabawi Madinah).
Di pertengahan tinggi tiang terdapat lampu berkerangka hias berbentuk sangkar kuning memancarkan kilau cahaya keemasan. Lampu-lampu di dalamnya terlindung tutup kaca sehingga tetap mampu menerangi sekitar di malam hari dan menambah indahnya payung raksasa. Ketika payung mengembang penuh, kerangka sangkar lampu hias ini terlihat seperti pangkal bunga yang indah keemasan. Helai-helai payung raksasa seakan kelopak bunga putih indah yang sedang mekar. Megah diatas tangkai tiangnya yang menjulang dari permukaan lantai marmer yang mengkilap. Demikian saat menguncup ia seperti bunga kuncup kokoh tegak berdiri.
Payung raksasa ini terpasang di bagian luar dan dalam Masjid Nabawi Madinah Al Munawwarah. Saat akhir tahun 2008 payung-payung raksasa banyak terlihat di sebelah timur Masjid Nabawi. Sebagian diantaranya terdapat di bagian tengah masjid, menempati ruang langit-langit yang terbuka. Tiang-tiang payung terlihat sedang dibangun di sisi-sisi luar lain Masjid. Suatu pemandangan indah saat menguncup dan mengembang. Saat payung kuncup atau ketika kubah geser membuka, saat itu di dalam Masjid Nabawi diri ini bisa memanjatkan doa-doa penyejuk jiwa langsung beratap langit biru.
Masjid Nabawi dibangun berdasarkan asas taqwa oleh Rasulullah SAW saat masuk kota Madinah. Pada jaman nabi masjid itu dibangun seluas 2.500 m2 (50 x 50 m) dengan tinggi atap 3,5 meter. Kemudian Masjid Nabawi mengalami beberapa kali renovasi pada jamannya. Terakhir Raja Fahd merenovasi masjid dan mempeluas menjadi 82.000 m2 meliputi bangunan-bangunan terdahulu dengan tinggi atap 12.55 meter. Ini adalah proyek perluasan paling besar sepanjang sejarah Masjid Nabawi. (Sejarah Madinah Munawwarah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani).
Di bawah "payung raksasa", diri ini bersimpuh tasyahhud dengan jiwa tulus ikhlas di bawah iman "Tidak ada Ilah selain Allah". Setulus hati tanpa berhitung lipatganda pahalanya. Tidak ada sesuatu yang dapat menenteramkan jiwa dan mengusir kegalauan darinya, selain beriman yang sesungguhnya kepada Gusti Allah, Rabb semesta alam. Sehingga tercipta ketenangan dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati dalam menerima dan menjalani ketentuan Gusti Allah, serta keikhlasan dalam menerima segala takdir-NYA dalam kesementaraan dunia ini. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)
Di tengah hiruk-pukuknya era teknologi informasi, berita silih berganti di sekitar kita. Bisa kapan saja, pagi, siang, sore dan malam hari. Sewaktu-waktu! Telah banyak stasiun televisi yang menyiarkan berita setiap jam, atau setiap saat dengan breaking news. Kadang berita disajikan seapik dan semenarik mungkin untuk "menghibur" para penikmatnya. Dengan demikian lebih menarik berita yang didapatkannya. Juga para pemburu berita, rela mengejar berita sampai ke pelosok kampung, gunung, hutan, di siang, malam, hujan, panas untuk pemirsanya. Bahkan ditengah desingan peluru mereka ada! (Foto: Displai berita dinding surat kabar harian, Solo).
Kini memang para "penikmat" berita dimanjakan oleh perangkat teknologi informasi. Melalui gadget media online, berita juga mampu diakses. Berita, gambar dan video bisa didapat. Hingga sambil tiduran pun bisa mendapatkannya. Tinggal buka telepon gengam diantaranya, lalu browsing berita sambil tengkurap, miring atau terlentang. Semua berita lokal, nasional dan internasional. Bahkan berita itu di-update setiap detik! Berita gempa di negeri jauh segera dibaca. Gosip dunia artis segera diketahui. Bahkan melalui situs jaringan sosial, seorang teman tahu apa yang sedang dilakukan teman lainnya di seberang benua. Berita mudah dengan segala dampaknya.
Alhasil berita itu menjadi tak bisa dipisahkan dari keseharian setiap orang kini. Penyedia berita memahami peluang ini. Mereka tumbuh bak jamur, baik yang dikelola pribadi, kelompok maupun institusi. Mereka mengambil peran dan meramaikan bursa berita. Bahkan sebagian berusaha mengendalikan berita. Berita diulas dari berbagai sisi dan sudut pandang siapapun, apapun dan kapapun. Itu kebebasan pers! Dan kecenderungannya berita kontroversi sering digemari. Penyedia berita melihat ini! Penyedia berita terlibat dalam membuat kontroversi dan warna-warni berita yang berkembang.
Alur dasar pemberitaan perlu diteliti dari sudut pengirim, berita dan penerima. Kita perlu pahami tentang pengirimnya, makna berita itu sendiri, serta manfaat bagi penerimanya. Lebih lanjut memahami berita sesuai konteksnya. Setiap berita yang terbaca, terdengar dan terlihat harus disaring, ditelaah dan diteliti dulu kebenarannya. Tidak langsung disetujui atau tidak disetujui, apalagi langsung diikuti dan ditindak-lanjuti! Baik berita itu dari surat kabar, majalah, televisi, radio, situs berita, SMS, jejaring sosial atau lisan sekalipun. Tak jarang isi berita berbeda antar pengirim dan media dalam waktu singkat. Kita harus berhati-hati menyikapi perbedaan berita!
Dengan ketelitian mampu memahami kebenaran berita. Agar tak terjebak dalam misinterpretasi, distorsi, strategi atau konspirasi pemberitaan. Demikian terhindar dari dampak berita yang tidak membawa manfaat. Akhirnya kita harus berlapang-dada menerima kebenaran berita meski tak sesuai harapan, pemahaman, pengetahuan, atau keyakinan kita. "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu" (Q.S. Al Baqarah [2]: 147). Berita yang benar mampu menciptakan kehidupan yang tenang, menghilangkan kecurigaan, memberikan keselamatan, serta menenteramkan jiwa. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)
Dari waktu ke waktu permainan anak senyatanya tak berubah temanya. Dulu anak bermain menggelantung, mengayun, meluncur, melompat, memanjat, berjombatan, berputar, bermain air dan sekarangpun juga masih demikian. Hanya tempat dan sarana bermainnya yang berubah menyesuaikan kemajuan jaman dan kondisi lingkungan. Dulu anak bermain di alam aslinya di halaman rumah, kebun, sungai dan bahkan juga di pinggir jalan. Seiring berkembangnya waktu, habitat bermain anak ini semakin berkurang, bahkan hilang. Kalaupun masih, tak layak lagi untuk bermain. Kini mereka harus mencari habitat baru untuk bermain. (Foto: Jungle Gym, Playground di Recreational Park "Bon Rojo" Kota Blitar)Jika dulu anak gemar bermain bergelantungan, sekarang pun masih demikian. Namun anak sekarang hanya bisa bermain ini di playground. Sarana buatan dimana anak bermain bergelantungan ini biasa dikenal jungle gym, monkey bar atau climbing frame. Seperti namanya, jungle gym ingin memberikan pengalaman kepada anak bermain olah-gerak badan bergelantungan layaknya di lingkungan alam aslinya. Biasanya terbuat dari pipa-pipa besi yang saling disambung dengan ulir atau las yang kuat dan halus. Model kerangkanya bisa berbeda-beda dari sederhana sampai sangat lengkap dan rumit strukturnya. Demikian anak bisa memanjat, duduk, menggantung, memutar dan mengayun.Bermain bergelantungan ternyata bermanfaat bagi pengembangan fisik, sosial dan emosional anak. Memperkuat seluruh otot kaki, tangan dan badan. Meningkatkan kemampuan pengendalian dan keseimbangan badan. Bisa membantu anak meningkatkan kecekatan dan ketrampilan alamiah serta menciptakan percaya diri atas kemampuannya. Juga bisa mengembangkan imajinasi anak dengan gerakan-gerakan yang diinginkannya. Termasuk mengasah problem solving yang tepat dimana dan kemana harus bergelayut dan keluar diantara struktur yang harus dilewati. It improves power (strength to reach new heights), agility (moving from one point to another as quickly as possible), speed, balance (to stay on the path to the top), and coordination (Frost, 2005).Namun jika tak berhati-hati, anak bisa terluka saat bermain ini. Bisa terpeleset, terbentur, terpelintir dan terjatuh. Akibatnya mungkin memar, keseleo, tergores, bahkan patah tulang. Sedikitnya lima hal penting ini perlu diperhatikan agar anak menikmati permainan jungle gym dengan selamat:
(1) Anak harus selalu diawasi ketika bermain.
(2) Pakaian anak jangan terlalu longgar dan banyak asesoris.
(3) Jangan gunakan jungle gym yang basah dan lincin.
(4) Tidak boleh menarik dan menghalangi gerakan anak lain yang sedang bermain bersama.
(5) Gunakan common sense, orang dewasa harus mencegah situasi dan gerakan anak yang bisa membahayakan.Memang sungguh asyik bermain ini! Seolah Tarzan raja rimba bergelantungan dari akar-sulur dan dahan pohon lalu berganti menjangkau ke akar-sulur dan dahan lainnya. Kadang mengayun, memanjat, dan berputar diantara akar-sulur dan dahan. Pernahkah anda bermain bergelantungan seperti itu sewaktu kecil? Bermain seperti ini tentu sangat menyenangkan bagi anak-anak. Sampai lupa waktu. Dulu masih banyak pepohonan untuk sarana bermain disekitar rumah dan tempat-tempat umum. Lingkungan bermain anak yang menyenangkan di alam aslinya. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)
Tulisan "TURK BUFESI" itu terbaca di papan stainless sebuah toko di kompleks pertokoan belakang Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah. Dari unsur kata "bufe" mungkin tulisan itu artinya toko makanan Turki. Memang toko ini menjual berbagai minuman dan makanan. Toko ini berada diantara toko lain yang menjual berbagai peralatan sholat dan barang souvenir. Cukup mudah ditemukan karena toko ini selalu terlihat berjubel pembeli yang antri membeli makanan atau minuman. Toko sejenis bisa ditemui di beberapa tempat sekitar Masjid Nabawi. Penjaga toko bertopi putih kelihatan sibuk melayani pembeli. (Foto: Turk Bufesi, belakang Masjid Nabawi, Madinah).
Setiap minuman dan makanan yang ditawarkan di toko ini sangat menarik dinikmati. Yang khas dari toko ini adalah roti bulat-lonjong (seperti hotdog bun) berisi daging dan rempah. Di meja bagian depan toko ini terlihat daging ayam yang disusun bertumpuk-tumpuk melingkari poros besi yang bisa berputar. Di sisi dalam terdapat elemen listrik yang selalu membara untuk memanggang daging agar masak dan tetap panas. Diantara lapis-lapis tumpukan daging terdapat lemak yang sekaligus sebagai pelezat dan perekat diantara tumpukan daging. Di beberapa toko kadang hanya menyajikan satu jenis daging saja, namun ada toko yang menyajikan sekaligus daging ayam dan daging sapi.
Meramu makanan ini diawali dengan mengiris tipis-tipis dengan pisau di sisi luar susunan daging. Bergantian diiris di sisi lainnya agar susunan daging ini selalu berbentuk simetris tirus merata. Diameter lingkaran kecil di bagian bawah susunan daging dan besar di bagian atasnya. Bentuknya bagus terlihat! Irisan-irisan tipis daging yang jatuh di meja bawahnya dicampur dengan rempah dan sayuran (sejenis salad). Lalu sedikit dicacah dengan pisau agar potongannya tidak terlalu besar. Lalu disiapkan roti bulat-lonjong dan dibelah di tengahnya menjadi dua bagian. Campuran daging, rempah dan sayuran ini kemudian dimasukkan ke bagian tengah roti dan dibungkus kertas tissue.
Sungguh lezat rasanya! Harganya bisa 4 atau 5 real tergantung dari isi dagingnya apakah daging ayam atau sapi. Saat itu 1 real setara dengan sekitar 3 ribu rupiah. Umumnya para jamaah haji membeli dan membawanya pulang ke pondokan atau menikmatinya di sekitar toko. Sebagai pelengkap nikmatnya makanan ini, mereka juga membeli segelas minuman dari toko yang sama. Selalu saja toko sejenis ini banyak dikunjungi pembeli dan terlihat berkerumun di sekitarnya. Terutama di pagi hari setelah usai menunaikan sholat subuh atau malam hari setelah sholat isya' ketika jamaah dalam perjalanan pulang dari masjid Nabawi menuju pondokannya.
Sejarah kejayaan kesultanan Ustmani Turki yang pernah menjadi pusat peradaban Islam ternyata telah memberikan nuansanya di Madinah, termasuk makanannya. Dan masakan Turki ini menjadi menu yang umum dinikmati pemukim Madinah yang cukup hiterogen. Memang sejak awal-mula Madinah, banyak pendatang dari daerah dan negara sekitar tertarik menetap di Madinah karena kesuburan tanah dan kurmanya serta perkembangan kotanya yang pesat sebagai pusat perdagangan. Masakan Turki ini pun suatu saat terlihat dinikmati para pemukim sambil duduk beralas karpet dekat "Turk Bufesi" diterangi indahnya sinar lampu malam selepas sholat isya'. (Pulung Chahyono, www.pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)