Tuesday, August 10, 2010

Java Coffee "Nasgithel"

Secara leksikal "Java Coffee" itu artinya ya kopi yang dihasilkan dari pulau Jawa. Menurut Wikipedia, kata "Java" dalam bahasa populer di negara Amerika merujuk pada kopi secara umum. Memang sejarahnya kopi dari Jawa sudah mulai menyebar dan terkenal di pasar dunia sejak kolonial Hindia Belanda membudidayakannya secara besar-besaran di pulau Jawa. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, "Kopi Jawa" selain merujuk ke asal kopi, juga berarti minuman kopi yang berwarna hitam pekat, kental, panas dan terasa cukup manis. Ada akronim yang umum untuk menyebut kopi jenis ini di Jawa, nasgithel (panas, legi, kenthel), panas, manis dan kenthal. (Foto: Kopi Arabica, sumber: www.plantamor.com)

Saturday, July 17, 2010

"Embah" Itu Telah Tiada

Kotak kayu mirip peti mati besar berisi harimau berukuran pas hingga hewan ini tidak bisa berbalik arah di dalamnya diletakkan di alun-alun. Kotak dikelilingi oleh barisan laki-laki bersenjata tombak. Cukup luas kelilingan orang itu kira-kira berdiameter 100 meter. Kemudian muncul orang berpakaian lengkap berjalan menuju kotak diikuti dua orang di belakangnya; satu membawa sepanggul jerami dan lainnya memegang obor. Jerami diletakkan tepat di depan kotak dimana arah kepala harimau. Orang yang berpakaian lengkap membuka pintu geser belakang kotak dan perlahan menggantikan dengan tutup kain gelap. Jerami dibakar pembawa obor. Mereka bertiga lalu keluar arena.

Sunday, July 4, 2010

Odong-Odong Zone

Tentu ini tak sebanding dengan Timezone dan Amazone, arena bermain anak yang biasanya ada di pusat hiburan dan perbelanjaan mewah. Area bermain di ruang sejuk ber-AC. Seisi ruangannya dihias dekorasi dan lampu warna-warni menarik. Penjaga berpakaian seragam rapi siap melayani setiap pengunjung. Timezone dan Amazone selalu didatangi anak-anak keluarga berduit. Sekali datang bisa menghabiskan uang puluhan atau bahkan ratusan ribu. Mereka bermain dengan membeli koin atau kartu gesek permainan di meja counter kaca yang berisi berbagai souvenir menarik bagi pengunjung. Anak, dan juga remaja, terlihat menikmati riang setiap jenis permainan modernnya.

Ini hanya tempat bermain sederhana "berpindah" yang saya temui di pinggir jalan kota kecil. Biar agak menarik saya menyebutkan "Odong-Odong Zone". Hanya terdiri beberapa jenis mainan kreasi mereka sendiri. Tentu saja mainan tak sebagus, senyaman dan segemerlap aslinya yang ingin ditiru. Odong-odong Zone dibuat untuk anak-anak pemukim sekitar yang ingin sedikit menikmati rasa dan pengalaman bermain yang jauh dari tempat aslinya. Tanpa harus mengeluarkan tenaga dan biaya besar di taman atau pusat hiburan. Sambil lalu dan mampir karena tempatnya hanya di pinggir jalan yang agak luas. Apapun, tentunya senang melihat anak riang menikmati permainan. (Foto: Becak Odong-odong, Utara Alon-Alon Blitar)

Paling tidak ada tiga jenis sarana mainan yang saya lihat di Odong-odong Zone waktu itu. Satu jenis kreasi mainan Marry Go Around menjadi mainan sejenis komedi putar yang berisi patung-patung kayu kuda yang bisa ditunggangi berjajar mengelilingi lingkaran putar. Satu lagi mirip Spinner berisi mainan miniatur mobil, lokomotif, truk yang bisa dinaiki menggantung ditopang jari-jari besi dari pusat putarannya. Dan becak odong-odong yang biasa saya temui berkeliling kampung dan berhenti jika ada anak ingin bermain dengannya. Anak-anak menikmati permainan ini dengan menaikinya dan kemudian berputar. Semuanya digerakkan dengan tenaga manusia. Permainan dicat warna-warni menarik dan beroda roda sehingga bisa ditarik dan dipindahkan dari lokasinya.

Becak odong-odong yang menarik anak saya untuk bermain. Sebuah becak yang dimodifikasi di bagian penumpangnya terdapat empat mainan anak. Bisa berupa mobil-mobilan, sepeda motor, bentuk bebek, atau kuda ukuran kecil yang bisa dinaiki anak. Kemudian tukang odong-odong mengayuh pedal becaknya, bukan agar becaknya jalan, tetapi agar empat mainannya bergerak naik-turun. Saat dikayuh lagu berbunyi dan saat lagu selesai maka selesai juga hitungan waktu naik yang harus dibayar. Saya hanya menunggu berdiri di sebelahnya. Ketika anak sudah terlihat puas bermain saya menanyakan kepada tukang odong-odong berapa ongkosnya. Seribu rupiah selama satu lagu.

Di tempat ini mereka datang pagi dan pergi menjelang sore hari. Malamnya mereka beristirahat dan menunggu hari esok untuk kembali menggelar sarana hiburan sederhana buat anak sekaligus mencari rejeki. Benar, harus beristirahat karena mereka seharian telah mengeluarkan tenaga untuk menggerakan alat permainan yang mereka tawarkan. Mereka harus menggerakannya dengan tenaga tangan atau kakinya agar mainan bergerak dan berputar. Semakin banyak anak yang menaiki mainannya semakin kuat tenaga yang harus dikeluarkan untuk menggerakkannya. Semakin banyak rejeki yang didapatkan tentunya. Dan semakin banyak anak kecil yang terhibur. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Sunday, June 13, 2010

Cembengan, Lebih Sekedar Tugu

Tugu Cembengan berada di tengah perempatan bertemunya empat jalur jalan; dari utara jalan Ki Hajar Dewantoro, dari timur jalan Ir. Sutami dan selatan jalan Kolonel Sutarto dan dari barat jalan Tentara Pelajar. Tugu ini dicat dengan warna putih. Aslinya tugu Cembengan dibangun jaman Sri Susuhunan Paku Buwono X, Raja Kraton Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893-1939. Tugu Cembengan adalah salah satu cagar budaya di Solo. Tugu yang ada kini adalah bangunan pengganti, namun tetap mempertahankan model bersusun aslinya. Model ini adalah khas tugu di tengah jalan perempatan yang dibangun jaman itu. (Foto: Tugu Cembengan, Solo).

Para bepergian dengan sarana transportasi darat antar kota propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur atau diantaranya cenderung melewati Tugu Cembengan. Demikian perempatan Tugu Cembengan kini cukup ramai lalu-lalang dan disinilah banyak terpasang media promisi, baliho, spanduk, poster dan sarana iklan lainnya. Tugu Cembengan berada di bagian timur kota Solo. Ini menjadi perempatan masuk ke pusat kota Solo dimana jalan utama keluar-masuk kota Solo melewati Tugu Cembengan. Jalan utama ini memiliki jalur lambat di kedua pinggirnya yang asri dipisahkan oleh jalur taman dan pohon hijau dengan jalan utamanya. Sedang jalur utamanya cukup luas memiliki dua jalur lalu-lintas dari dua arah.

Tugu ini dekat kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Tentu mahasiswanya akrab dengan Tugu Cembengan. Apalagi dekat Tugu Cembengan ada warung wedangan lesehan HIK sebagai tempat mangkalnya mahasiswa. Warung dengan jajanan lengkap dan nasi bungkus murah-meriah. Warung ramai dikunjungi sekaligus tempat refreshing mahasiswa mulai selepas maghrib sampai tengah malam. Konon kata "HIK" adalah singkatan Hidangan Istimewa Kampung. Juga suara khas penjualnya yang sesekali meneriakkan suara "HIK" melengking menarik pembeli. Dulunya wedangan HIK movable dipikul oleh penjualnya berkeliling dari kampung ke kampung.

Tugu Cembengan memiliki model bersusun tiga. Terdapat lubang di susun paling atas tembus ke empat sisinya ke arah jalan. Sangat memungkinan dulu lubangnya sebagai tempat lentera di malam hari. Jaman belum ada listrik adalah umum penduduk memasang lentera di pinggir jalan depan rumah dan perempatan di malam hari. Lentera untuk memberi penerangan dan peringatan kepada para pengguna jalan. Walau tentunya jaman dibangunnya tugu Cembengan jenis dan jumlah pengguna jalan tidak sebanyak sekarang. Demikian pengguna jalan menjadi berhati-hati saat memasuki daerah perempatan. Dengan adanya tugu, pengguna jalan memiliki hak jalan (right-of-way rule) tetap di jalurnya masing-masing, kemudian melewati atau memutari Tugu Cembengan.

Dengan tetap membawa nilai aslinya Tugu Cembengan telah berevolusi menjadi "roundabout" dengan taman di dalam bundaran dasar tugu. Taman memberikan nilai estetika dan tugunya sebagai monumen. Roundabout kini banyak dibangun di kota besar dunia sebagai traffic rules dimana lalulintas harus berjalan satu arah melingkar, mengurangi kecepatan dan memberi hak jalan kepada kendaraan yang lebih dulu masuk jalur bundaran. Tugu Cembengan memiliki nilai sejarah, ekonomi, sosial, budaya, dan traffic rules kini. Memang Tugu Cembengan lebih dari sedekar tugu. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)

Sunday, June 6, 2010

Nikmat Yang Terdustakan?

Bak untaian mutiara indah negeri ini. Ribuan pulau berjajar sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Gugusan pulau ini memiliki kekayaan dan distribusi flora dan fauna yang melimpah. Kondisi geologi dan geografinya berimplikasi pada aspek topografi, iklim, kesuburan tanah, dan sebaran tumbuhan dan hewan. Negeri dengan berbagai kandungan mineral bumi, kekayaan alam dan laut dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Kekayaan dan keindahan alam juga memberi nuansa warna-warni budaya insan penghuninya. Demikian indah dan kayanya hingga menarik migrasi manusia ke negeri ini mulai dari jaman prasejarah hingga kini. (Foto: Wisata Bendungan Selorejo, Jawa Timur).

Karena kesuburan alamnya konon migrasi awal manusia masuk wilayah negeri ini sekira 150.000 tahun lalu. Bangsa migran ini hidup dengan cara hunting and gathering berpindah-pindah di daerah nusatara yang kaya dengan berbagai hewan dan buah-buahan. Mereka kelak menjadi nenek moyang suku-suku wilayah timur negeri. Selanjutnya sekira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan manusia besar-besaran masuk ke kepulauan negeri ini yang kemudian menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah bagian barat. Mereka telah memiliki peradaban yang cukup baik dimana mereka bisa bertani dan bercocok taman di dataran subur negeri ini.

Sejak awal tarikh Masehi, para musafir dari negara seberang mulai datang ke negeri ini untuk melakukan hubungan dagang. Mereka dari India, Tiongkok, Persia dan wilayah Timur Tengah lainnya. Para musafir berdagang untuk berbagai rempah-rempah, lada, gaharu, cendana, pala, kemenyan, serta gambir. Juga berdagang emas, perak dan hasil kerajinan. Titik-titik perdagangan hasil bumi mulai tumbuh. Bahkan relief Candi Borobudur menunjukkan perahu bercadik khas anak negeri yang digunakan pedagang waktu itu. Hubungan dagang ini memberi pengaruh besar, terutama masuknya ajaran berbagai agama, dan sistem pemerintahan kerajaan.

Keahlian bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan membuat mereka melakukan ekspedisi, eksplorasi dan ekspansi untuk memperoleh hasil bumi. Dimulai tahun 1512 di Malaka, bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang tiba di negeri ini, dan berusaha menguasai sumber rempah-rempah yang berharga sampai ke Sunda Kelapa. Kekayaan negeri ini juga menarik bangsa lainnya hingga mulai tahun 1641 Malaka jatuh dibawah kekuasaan Belanda. Kemudian Belanda beralih ke Batavia sebagai pusat perdagangan hasil bumi dan administratif. Masa pendudukan Jepang mulai tahun 1942 dengan membawa berbagai hasil bumi keluar negeri, hingga berakhir saat Kemerdekaan Indonesia.

Seolah keindahan surgawi terpercik ke negeri ini. Hamparan lembah hijau. Pegunungan subur. Teduhnya pohon-pohon rindang. Mengalirnya air jernih sepanjang sungai. Beningnya air danau. Taman yang indah. Bunga yang mekar berwarna-warni. Buah-buahan yang melimpah dengan berbagai jenis dan nikmat rasanya. Biji-bijian yang menjadikan makanan dan wangi dedaunan sebagai pelengkapnya. Laut indah dan ikan melimpah. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rahmaan [55]: 13). Ini kalimat oratoris yang tidak memerlukan jawaban, tapi mengandung makna menegaskan. Semoga kita termasuk anak negeri yang tak pernah mendustakan nikmat-NYA. (Pulung Chahyono, http://pulung-online.blogspot.com, mitra_ulung@yahoo.com)